Home / Sedarah / Cerita Sex Dewasa Hot Para Bidadari Seksi yang memakai Hijap

Cerita Sex Dewasa Hot Para Bidadari Seksi yang memakai Hijap

Cerita Sex Dewasa Hot Para Bidadari Seksi yang memakai Hijap

* Cerita Dewasa  Bergambar ini ditulis dimaksudkan sebagai hiburan bagi mereka yang sudah dewasa baik dari segi umur maupun pikiran dan berpandangan terbuka. Di dalamnya termuat kisah erotis yang menceritakan detail hubungan seksual.
* Cerita Seks Bergambar ini adalah karya fiksi. Semua karakter dan peristiwa yang termuat di dalamnya bukanlah tokoh dan peristiwa nyata dan lahir dari fantasi belaka. Kemiripan akan nama dan perilaku ataupun kejadian yang terdapat dalam Cerita Seks Bergambar ini murni ketidak sengajaan dan hanya kebetulan saja. Penulis tidak menganjurkan atau mendukung aktivitas seperti yang diceritakan.
* Mohon maaf sebesar-besarnya, kalau lahirnya cerita seks bergambar ini menyinggung perasaan warga semprot dan netizen sekalian, penulis tidak bermaksud sarah ataupun melecehkan kelompok tertentu.

Dengan ini saya mempersembahkan karya baru saya…. Selamat menikmati!

Cerita Sex Dewasa Hot Para Bidadari Seksi yang memakai Hijap

Ema Salima Salsabila

Image result for jilbab togel

Seorang wanita alim berusia 39 tahun, sudah menikah dengan Tio, mereka memiliki seorang anak perempuan bernama Asifa Salsabila berusia 16 tahun.
Ema sosok Ibu masa kini, selain cantik, dia wanita lemah lembut tapi sangat tegas.
Di bandingkan dengan saudara-saudarnya Ema yang paling kaya, shingga tidak heran kalau Ema memiliki banyak pembantu rumah tangga, tapi walaupun begitu ia memperlakukan pembantunya dengan sangat baik, tapi siapa yang menyangkah kebaikannya di balas dengan penghinaan.
Nama pembantu Ema.
-Inem usianya 27thn
-Darto sopir pribadinya 38
-Ujang 29 thn
-Rusman 41 satpam.

Asyfa Salsabila

Related image

Anak dari Ema, dia tumbuh menjadi gadis cantik sama seperti Ibunya. Berkat didikan Ibunya yang tegas, ia tumbuh menjadi anak yang baik dan berbakti, bahkan ia rela mengorbankan dirinya untuk sang Ibu.

Emi Sulia Salvina

Related image

Usianya 35 tahun sudah bersuami dia memiliki seorang anak laki-laki, namanya Toni, selama ini ia terlalu memanjakan anaknya, sehingga Toni tumbuh menjadi anak yang manja dan penakut.
Rasa sayangnya yang besar membuatnya tidak berpikir panjang demi membela sang anak dia rela menyerahkan tubuhnya agar anaknya tidak di bully.

Elvina

Related image

Usia 32 tahun, sudah menikah dengan Hendra tapi belum memiliki anak, di rumah ia tinggal bertiga dengan Suaminya dan Mertuanya yang bernama Amin usianya 50thun.
Elvina berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain. Dia tipe wanita pendiam, ia lebih suka mengekspresikan rasa suka, marah, dan sebagainya dengan bahasa tubuh.
Amin yang berpengalaman mengerti apa yang di inginkan menantunya, sehingga ia membuat sebuah permainan yang melibatkan Elvina secara tidak langsung.

Inayah Sipta Renata

Related image

Usia 26 thun sudah menikah dengan Hasan tapi belum memiliki anak, suaminya seorang pengangguran sementara Ina seorang pns, dia dekat dengan sahabat Suaminya Anton yang juga seorang PNS.
Inayah tipe wanita yang keras kepala, genit, dan matre. Sementara Suaminya tipe pria penurut termasuk dalam katagori Suami takut Istri.

Anayah Sipta Renata

Related image

Usia 25 tahun, belum menikah dan berencana ingin menikah dengan seorang Akhwat bernama Aji pamungkas berkat di jodohkan. Diantara saudaranya ia yang paling taat beragama, dan cita-cita terbesarnya mengajak sahabat terbaiknya kembali kejalan yang benar.
###

Prolog
Sangat sulit tentunya bisa berkumpul bersama bagi mereka yang kini sudah memiliki kesibukan masing-masing, apa lagi sebagian dari mereka kini sudah menikah dan memiliki anak, tapi walaupun sudah berkeluarga, mereka tetap saling menyayangi dan sangat perduli dengan satu sama lainnya. Dan hari ini mereka berkumpul bersama membahas pernikahan Adik bungsu mereka yang berencana ingin segera melepas masa lajangnya.

Dan untuk membahas masalah tersebut mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah Ema Salima Salsabilla, karena diantara mereka berlima Ema anak paling tua, sehingga tidak heran kalau mereka menganggap Ema seperti orang tua mereka sendiri setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia.

“Kamu serius mau menikah?” Tanya Ema setelah mereka baru saja selesai menyantap makan malam bersama, dan sekarang mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.

“Iya aku serius Mbak, aku pikir sudah saatnya aku melepas masa lajangku.” Jelas Ana sembari tersenyum yakin dengan keputusannya.

“Menikah itu tidak muda. Tanggung jawab kamu sebagai seorang wanita akan bertambah?” Ujar Elvi sambil mengambil keripik singkong kesukaannya yang ada di atas meja.

“Benar apa yang dikatakan Mbak Elvi Ana, apa lagi calon Suami kamu kerjanya saat ini gak jelas, aku takut nanti kamu bernasib sama denganku.” Ina mengingatkan saudaranya tentang bagaimana nasibnya saat ini.

Ina yang usianya hanya terpaut satu tahun dari adiknya, memang sudah menikah dua tahun yang lalu, tapi kehidupan rumah tangganya tidak begitu harmonis, karena Suaminya hanyalah seorang pengangguran, membuatnya kini menjadi tulang punggung keluarga.

“Husst… kamu gak boleh ngomong seperti itu.” Sergah Emi kepada Adiknya.

“Ingat dulu kamu yang memilih Hasan untuk menjadi Suami kamu, bukannya dulu Mbak sudah ingatkan kamu!” Ujar Ema menasehati Adiknya, yang di nasehati hanya diam saja.

“Seharusnya kamu bersyukur sudah meiliki pendamping hidup yang menyayangi kamu, dan selama ini Mbak lihat Suami kamu sudah berkerja keras mencari pekerjaan, dia bukan orang yang pemalas hanya duduk diam di rumah.” Timpal Emi, sambil mendesah lirih.

“Sudah… sudah… saat ini kita sedang membahas pernikahan Ana!” Lerai Elvi.

Kemudian mereka kembali sibuk membahas pernikahan Anna, dan di lanjut dengan mengobrol ringan bercanda gurai. Rasanya sudah lama mereka tidak seperti saat ini, bisa saling menasehati, memberi masukan dan bercanda santai sambil tertawa ringan.

Tak terasa waktu terus berputar, hingga akhirnya satu persatu dari mereka pulang kerumah masing-masing, kecuali Anna yang masih tinggal di kamar kossan.
###

Satu…

Ema Salima Salsabila

Seperti biasanya, aku bangun lebih awal. Menyiapkan semua keperluan Suami dan anak gadisku. Di mulai dari memasak yang di bantu oleh Inem, selesai memasak, aku segera kembali kekamarku, membangunkan Suamiku yang masih terlelap.

Perlahan aku duduk di tepian tempat tidur, cukup lama aku memandangi wajah Suamiku.

Tidak terasa sudah tujuh belas tahun lebih kami menikah, hingga kami melahirkan seorang Putri yang begitu cantik, dan membanggakan.

“Bangun Mas!” Panggilku lirih…

Tubuh Mas Tio menggeliat, dengan perlahan ia membuka matanya dan kemudian tersenyum kearahku. “Jam berapa sekarang?” Tanyanya dengan suara yang serak.

“Sudah jam lima, ayo bangun!” Pintaku.

Tapi tiba-tiba Mas Tio memeluk pinggangku menjatuhkanku diatas tempat tidur kami. Lalu dia mulai menyerangku, mencium sekujur wajahku, dan terakhir ia memanggut bibirku lembut penuh kasih sayang.

“Mas… nanti anak kita Asifa kesiangan loh!” Kataku mengingatkannya.

Dia membelai wajahku. “Ini hanya sebentar kok sayang, boleh ya…” Bujuknya, tapi tanpa menunggu jawaban dariku dia melucuti celana piyamaku berikut dengan celana dalam yang aku kenakan.

Kalau sudah begini aku hanya pasrah membiarkan dirinya menuntaskan birahinya. Bukankah ini sudah menjadi tugasku sebagai seorang Istri yang wajib melayani Suaminya. Dalam kondisi apapun aku tidak boleh menolaknya, karena surgaku ada di rhidonya.

Dengan perlahan kurasakan penis Suamiku yang menyeruak masuk kedalam vaginaku yang masih kering. “Aaahkk…” Aku merintih pelan.

Dengan ritme pelan Suamiku mulai menggerakan pinggulnya maju mundur, hingga akhirnya akupun mulai terangsang dan menikmati setiap gesekan yang terjadi antara kelamin kami berdua.

“Kamu sangat cantik sekali, walaupun sudah tidak muda lagi, tapi wajah dan bentuk tubuhmu sama seperti anak remaja pada umumnya.” Aku tersipu malu mendengar pujiannya terhadapku.

“Aahk… Mas bisa aja! ”

“Mas tidak berbohong sayang, dan… Aahkk…” Tubuh Suamiku bergetar dan kemudian kurasakan lelehan hangat masuk kedalam rahimku.

Tubuhnya ambruk kesamping tubuhku dengan nafas yang memburu. Dia menatapku sebagai ungkapan terimakasih, dan aku menjawabnya dengan tersenyum semanis mungkin.

Segera aku mengenakan kembali celanaku, membiarkan Suamiku beristirahat sejenak sementara aku membangunkan anak semata wayangku yang tentunya saat ini masih tertidur lelap. Setelah membangunkan mereka berdua, aku kembali di sibukan menyiapkan sarapan mereka berdua.

Tugasku baru berakhir ketika mereka berdua meninggalkan rumah dan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.

Selesai mandi, aku berencana untuk bersantai sejenak di depan tv, tapi siapa yang menyangkah aku malah ketiduran di depan tv. Bangun-bangun tubuhku terasa begitu sakit, sepertinya aku sangat kelelahan apa lagi tubuhku sudah lama tidak di pijit.

Lebih baik aku meminta Inem memijittiku sebentar, siapa tau habis itu tubuhku tidak pegel lagi.

Aku berjalan santai menuju kamar Inem yang berada di dekat dapur, setibanya aku hendak mengetuk kamar Inem, tapi tiba-tiba langkahku terhenti saat mendengar suara yang aneh dari dalam kamar Inem, suara desahan yang sangat familiar di telingaku

Tanpa mengetuk pintu lagi aku membuka kamar Inem dan benar saja. “Astafirullah… kalian ngapain?” Aku memekik kaget saat melihat Inem sedang berada diatas selangkangan Pak Rusman, sementara di belakangnya ada Pak Darto.

“I…ibu!” Panik Inem.

Tapi kedua pria pembantuku itu seolah tak perduli dengan kehadiranku, mereka masi saja menyetubuhi Inem pembantuku, membuatku marah dan sangat geram dengan kelakuan mereka yang kurang ajar.

Aku bertekad akan melaporkan perbuatan zina mereka, kepada Suamiku, dan memecat mereka semua.

Aku hendak meninggalkan kamar Inem, tapi tiba-tiba seseorang memeluk pinggangku dan kemudian menarikku masuk kedalam, belum sadar akan bahaya yang menimpaku, tiba-tiba Ujang menutup pintu kamar Inem dan menguncinya dari dalam.

“Mau apa kamu Jang?” Aku membentaknya marah.

Ujang hanya tersenyum dan kemudian ia melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat. “Ya Tuhaan…” Aku meringis ketakuttan.
###

Emi Sulia Salvina

“Assalamualaikum!”

Aku masih berada di dapur saat mendengar salam dari putra semata wayangku. Aku segera menuju pintu rumah utama, kulihat putraku sedang menangis, pakaiannya berantakan, dan wajahnya terlihat memar, bahkan bibirnya sedikit berdarah.

“Astafirullah!” Ucapku kaget, lalu aku memeluk anakku, dan mengajak masuk kedalam rumah.

Aku segera mengambil obat di dalam kotak p3k milikku, lalu kembali menemani putraku, kusuruh ia untuk tidur diatas pangkuanku, lalu dengan perlahan aku mengobati luka di wajahnya.

Ya Tuhan… siapa yang begitu tega memukul anakku, ini sudah kesekian kalinya aku melihat Toni pulang dalam keadaan terluka.

Kali ini aku harus berhasil memaksa Toni untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya. Dan aku harus tau siapa yang telah berani memukul anakku, hingga ia babak belur seperti ini.

“Masi sakit Ton?” Tanyaku setelah mengobati luka di wajahnya.

“Iya Bun, rasanya sakit banget!”

“Cerita sama Bunda, siapa yang sudah berani mukulin kamu, biar nanti Bunda yang menghukum mereka.” Jelasku, sambil mengusap lembut pipi anakku yang mewar akibat pukulan.

Toni tertenduk, dia tak berani menatap mataku. “Gak ada Bunda.” Jawabnya, jelas kalau dia sedang berbohong, luka ini tidak mungkin ada kalau dia tidak di pukuli.

“Bilang sama Bunda, siapa yang sudah memukul kamu? kamu pasti tidak mau di pukulin lagi kan?” Tanyaku pelan dengan nada lirih.

Toni mengangkat wajahnya dan kemudian tersenyum, tapi dia tetap.diam tidak mau memberi tauku, siapa yang telah berani memukulinya. Aku mendesah pelan lalu kembali aku memeluknya dengan sangat erat.

Tak lama kemudian seorang pemuda menghampiriku yang sedang memeluk putraku.

“Baru pulang Wan?”

“Iya Bun, dia kenapa lagi Bun, kok mukanya bonyok gitu?” Tanya Irwan, melihat kearah wajah Toni yang lebam karena di pukulin.

Kulihat dia tampak begitu khawatir, dia segera menarik pundak anakku, dan melihat wajah anakku dari dekat. Kulihat Irwan tampak kesal setelah melihat wajah Toni yang berantakan.

Tidak heran kalau Irwan tampak marah melihat wajah Toni yang terluka, mengingat Irwan adalah keponakan dari Suamiku, secara tidak langsung dia adalah Kakak dari anakku.

“Siapa yang mukulin Adek Bun?”

“Toni belum mau cerita! Ya sudah kamu istirahat dulu ya sayang, Bunda mau masak dulu, kamu juga ya Wan!” Kataku kepada mereka berdua.

“Iya Bun.” Jawab Toni, lalu dia beralu kekamarnya.

“Aku mau nemanin Bunda masak, bolehkan Bun?” Tanya Irwan, aku tersenyum, dia memang anak yang baik, selalu mau membantuku, meringangkan pekerjaanku.

Semenjak tinggal di rumah kami, Irwan memang sudah terbiasa memanggilku dengan panggilan Bunda, sama seperti putraku memanggilku.

“Yakin?”

“Sangat yakin, kapan lagi bisa bantuin Bunda yang cantik!” Jawab Irwan, aku hanya tertawa renyah mendengar gombolannya.
######

Elvina

Aku baru saja tiba di rumah sekitar jam lima sore, baru saja aku memarkir mobil honda jazz milikku, tiba-tiba seorang wanita mudah mengenakan mini dress berwarna merah keluar dari dalam rumah. Dia sempat melihatku lalu tersenyum meninggalkan rumah.

Aku mendengus kesal, ini pasti ulah mertuaku yang lagi-lagi menyewa psk.

Aku tau dia seorang duda, tapi menyewa psk dan membawanya kerumahku tentu ini sudah sangat keterlaluan, apa lagi ini bukan kali pertama aku melihat dia membawa masuk psk kedalam rumahku, tapi ini sudah untuk kesekian kalinya.

Bahkan perna suatu hari, ketika aku pulang lebih awal dari kantor tempatku bekerja, aku memergoki Bapak Mertuaku sedang bercumbu mesrah dengan seorang psk di dalam kamarku.

Tentu saja aku marah dan mengusirnya keluar, tapi setelah itu aku tidak perna mengungkitnya lagi, bahkan aku tidak mengadu ke Suamiku, aku memilih diam dan berharap suatu hari nanti Mertuaku mau bertaubat.

“Astafirullah!” Aku beristifar pelan.

Aku tidak boleh emosi seperti ini, setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya.

Segera aku masuk kedalam rumahku, kulihat Mertuaku sedang duduk sambil menonton tv. Seeperti biasanya, walaupun aku merasa kesal dengan tingkahnya, aku tetap berlaku sopan kepadanya.

“Pak!” Sapaku, lalu mengamit tangannya dan mencium tangannya.

“Baru pulang Vi?” Tanyanya.

Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Maaf Pak cewek tadi yang baru keluar siapa ya?” Tanyaku dengan sopan, dia melihatku sejenak, lalu kembali mengarahkan matanya kelayar tv.

“Dia teman Bapak, tadi cuman mampir!”

Sebenarnya aku ingin sekali marah kepadanya, menegurnya dengan keras, tapi aku takut hubunganku dengannya akan menjadi buruk, tentu saja masalah ini akan berimbas terhadap Suamiku. Aku tidak ingin membuat Suamiku khawatir.

Aku lebih memilih diam, dan segera masuk kedalam kamarku yang sunyi, karena tiga hari ini Suamiku sedang berada di luar kota.

Segera aku membuka pakaianku hingga telanjang bulat, lalu kuambil handukku, dan berjalan santai menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar mandi. Kugantungkan handukku di belakang pintu, lalu sambil bernyanyi riang aku membiarkan air shower membasuh tubuhku.

Kuambil sabun cair, dan kutumpahkan sabun itu di kedua tanganku, lalu dengan perlahan kedua tanganku yang penuhi sabun, mulai bergerilya di tubuhku, membelai perutku yang ramping terus naik hingga keatas payudarahku. “Aahkk…!” Aku merintih pelan ketika jari nakalku menyentuh puttingku.

Lagi-lagi aku seperti ini, padahal baru tiga hari Suamiku pergi, tapi aku sudah sangat merasa kesepian.

“Aahkk… Mas, aku merindukanmu!” Bisikku lirih.

Kedua tanganku semakin intens merangsang payudarahku, meremasnya dengan perlahan, memilin puttingku, membuat wajahku mengada keatas sanking nikmatnya.

Perlahan tangan kananku turun kebawah, lalu kuselipkan jari tengahku kedalam bibir vaginaku yang semakin basah karena lendir precum yang keluar dari vaginaku seakan tak mau berhenti. “Ohk!” Kembali aku merintih, membayangkan Suamiku yang saat ini sedang menyetubuhiku seperti biasanya.

Semakin lama jariku bergerak semakin cepat, hingga akhirnya aku tidak tahan lagi, dan… “Aaaahkk..” Aku memekik cukup keras seiring dengan orgasme yang telah aku dapatkan.

Astaga… lagi-lagi aku bermasturbasi, lama-lama aku tidak kuat kalau harus begini terus.

Mas cepatlah pulang….
###

“Sudah mau pergi sayang!” Sapa Suamiku yang baru saja meletakan segelas susu hangat di atas meja. “Susunya di minum dulu bidadari surgaku.” Dia tersenyum seperti biasanya, menyapaku dengan panggilan sayang.

“Terimakasi Mas!”

“Anton belum jemput kamu sayang, ini sudah jam tujuh lewat, apa perlu Mas yang antrrin kamu?”

“Bentar lagi Mas Anton juga dateng!”

“Nanti kamu telat loh.”

“Gaklah Mas, biasanya juga nanti Mas Aton pasti jemput aku kok, gak mungkin dia langsung kekantor!”

“Ya sudah terserah kamu aja!”

Dan lima menit kemudian terdengar suara deruh mesin di depan rumahku. Aku dan Suamiku segera keluar rumah, kulihat Mas Anton keluar dari dalam mobilnya, dia tersenyum lalu menyapa kami.

“Assalamualaikum!” Sapanya.

“Waalaikumsalam.” Jawabku, “Kok datangnya telat Mas, kita hampir terlambat ni!” Kataku sedikit merajuk, dan seperti biasanya Mas Anton hanya tertawa menanggapi rajukanku, bahkan seperti tidak perduli.

Oh ya, namaku Inaya Septa Renata, usiaku saat ini 26 tahun, dan alhamdulillah sudah satu tahun ini aku di angkat menjadi Pegawai Negri Sipil, berkat bantuan dari Mas Anton. Aku merasa sangat berhutang budi terhadap Mas Anton yang telah begitu banyak membantu berkorban untuk keluarga kecilku.

Mas Aton sendiri adalah sahabat baik dari Suamiku Mas Hasan, mereka saling mengenal semenjak mereka duduk di bangku kuliah.

Hubunganku dengan Mas Anton sekian hari makin dekat, karena setiap hari kami selalu pergi pulang kerja bareng, karena kebetulan kami satu kantor, sanking dekatnya hubungan kami aku sudah menganggap Mas Anton seperti Kakakku sendiri, dia tempatku berkeluh kesah di kalah senang maupun sedih.

“Mas Hasan, aku pergi dulu ya!” Pamitku, lalu mencium tangannya.

“Hati-hati di jalan, Mas Anton, aku titip Istriku ya.” Kata Suamiku, Mas Anton hanya mengangkat tangannya bertanda kalau ia bersedia menjagaku.

Segera kami masuk kedalam mobilnya, dengan perlahan mobil Mas Anton berjalan meninggalkan Suamiku yang seperti biasanya selalu melambaikan tangannya hingga mobil kami menghilang dari pandangannya.

Selama di perjalanan menuju kantor, seperti biasanya kami selalu bercanda gurau.

“Tapi serius loh Dek, kamu hari ini beda banget!” Dasar Mas Anton memang paling suka menggodaku, membuatku terkadang malu sendiri.

“Uda dong Mas neggombalnya.”

“Serius loh Dek, kamu terlihat lebih seksi dari biasanya! Mas aja tadi sempat pangling waktu melihat kamu barusan, Mas pikir tadi siapa.” Dia menoleh sebentar kearahku, lalu tangannya mengamit tanganku.

Tanpa sadar aku meremas tangannya yang sedang menggenggam tanganku.

Entah kenapa akhir-akhir ini setiap kali berdekatan dengannya, jantungku selalu berdetak lebih cepat, selain itu tak jarang aku suka salah tingkah setiap kali ia menggombal, rasanya sangat berbeda ketika Suamiku yang menggombal.

Seperti hari ini ia terus-terusan memujiku, karena aku menuruti sarannya untuk memperkecil ukuran pakaian dinasku, sehingga aku terlihat begitu seksi katanya.

Kalau seandainya saja yang memujiku ini bukan Mas Anton, mungkin aku akan sangat marah, tapi karena yang memujiku ini adalah Mas Anton, rasanya aku tidak bisa marah, malahan aku merasa bangga mendapatkan pujian dari dirinya walaupun pujian itu terdengar vulgar.

“Emang seksinya dari mana sih Mas?”

Dia kembali tertawa renyah. “Lihat payudarahmu Dek, terligat lebih menantang dari sebelumnya, apa lagi pantat kamu Dek, Uh… rasanya Mas gak sabar pengen melihatnya lagi.” Gombalnya senang, membuatku semakin gemes oleh tingkahnya.

“Mas nakal, nantik aku aduhin sama Mas Hasan.” Kataku sembari mencubit perutnya.

“Auw, sakit Dek! Nanti seksinya hilang loh!”

“Biarin.” Kataku merajuk.

Dan alhasil Mas Anton selama sisa perjalanan kami dia terus membujukku agar aku tidak cemberut, tapi aku pura-pura tidak memperdulikannya.
###

Ema Salima Salsabila

Dengan sekuat tenaga aku hendak melepaskan diri, tapi Ujang dengan erat memelukku, dia memaksaku melihat adegan panas antara Mbak Inem dengan Pak Darto dan Pak Rusman, membuatku merasa sangat jijik dengan mereka semua. Bagaimana mungkin mereka memperlakukanku seperti ini sebagai majikan mereka, yang seharusnya sangat mereka hormati.

Mereka benar-benar tidak tau diri, selama aku dan Suamiku memperlakukan mereka layaknya seperti keluarga, tapi apa yang mereka perbuat saat ini sungguh sangat keterlaluan.

Ujang memaksaku duduk di pangkuannya, sementara ia duduk di kursi.

Sambil menonton adegan live show yang ada di hadapanku, Ujang dengan beraninya menggerayangi tubuhku, dia mencium tengkukku yang masih tertutup kerudung, sementara kedua tangannya mencengkram erat payudarahku. Ya… Tuhaan, Aahkk… remasan Ujang dan pemandangan yang ada di hadapanku saat ini, sedikit banyak membuatku terangsang.

Kulihat penis Pak Rusman keluar masuk dengan perlahan di dalam vagina Inem, sementara penis Pak Darto dengan gerakan cepat menyodomi Inem dari belakang.

Untuk pertama kalinya di dalam hidupku melihat pemandangan erotis seperti ini, dan parahnya lagi, adegan terlarang itu di lakukan oleh pembantuku sendiri. “Astafirullah!” Aku mengucap dalam hati.

“Paak… Ooohkk… Ineeem mau keluaaar lagi!” Erang Inem, kulihat tubuh bugil Inem tersentak-sentak selama beberapa detik, dan kemudian tubuhnya melemas, jatuh kedalam pelukan Pak Rusman. Tapi mereka berdua bukannya berhenti malah semakin beringas menyetubuhi Inem, bahkan kulihat Pak Darto memukul pantat Inem cukup keras.

Tidak… kenapa aku seperti ini? Oh… Tuhan, Aku tidak mungkin terangsang… tapi ini…. Aaahk…!

Kusandarkan kepalaku di pundak Ujang sambil merontah kecil kepadanya, sementara Ujang semakin keras meremas payudarahku, bahkan sambil menciumi pipiku, tangan kanan Ujang beralih kebawah menuju keselangkanhanku, aku dapat merasakan jemarinya menekan selangkanganku, sementara itu penisanya seperti menyundul pantatku.

“Kayaknya Ibu sudah terangsang ya?” Ia menggodaku, berbisik di telingaku.

Aku menggeleng lemah. “Tidaaak… Aahkk… Lepaskan saya Mas Ujang! Aaahhkk…. Ooghk…. Cukup, jangan lecehkan saya lagi Mas, ini dosa besar Mas!” Aku memohon tapi tak benar-benar berusaha menghentikan perbuatan cabul yang di lakukannya.

“Coba Ibu lihat Inem? Ibu maukan seperti Inem, kita akan bikin Ibu ketagihan dengan kontol kami, setiap hari Ibu akan kami perkosa sama seperti Inem!”

“Perkosa?” Kataku panik. “Jangan Mas Ujang! Saya mohoon, saya janji tidak memecat ataupun melaporkan perbuatan kalian tapi tolong Mas, jangan seperti ini, lepaskan saya Mas, saya sudah bersuami!” Aku memohon kepada mereka.

“Yakin mau di lepaskan?”

“Khaaaayaaakkkiiiin…” Aku memekik ketika Ujang meremas kasar dadaku.

Tapi tak lama kemudian tiba-tiba Ujang memanggut bibirku, meredam suaraku dengan melumat bibir merahku, menghisapnya dengan perlahan membuatku kaget sekaligus semakin terbawa suasana erotis.

Oh Tuhan… dia mencium bibirku, menghisap mulutku begitu lembut, aku tidak perna merasakan ini sebelumnya, Suamiku tak perna melakukannya seenak ini, tapi dia… Aahkk… dia hanya pembantuku, tapi dia bisa membuatku merasa nyaman seperti ini, dan lagi….

“Cukup…” Aku tersadar kudorong dadanya.

Astaga… Apa yang kulakukan barusan, hampir saja aku menikmati sentuhannya di bibirku.

“Kalian sudah selesai belom, sisain tenaga buat ronde kedua ni?” Tanya Ujang kepada mereka yang saat ini sedang berbaring dalam keadaan telanjang bulat, sepertinya mereka baru selesai.

“Udah… hayu kita lanjut.” Kata Pak Darto.

“Serius Mas Ujang mau ngelakuin ini sama Ibu, selama ini Ibu baik sama kita, masak kita malah ngelakuin ini sama Ibu.” Aku bisa sedikit bernafas lega mendengar penuturan Inem, dan berharap mereka mau mendengarkan Inem.

“Tenang aja Nem, kamu aja ketagihankan?” Tanya Ujang, kulihat Inem tertunduk malu.

“Nambah satu bidadari surga lagi ni.” Girang Pak Rusman.

“Pak Darto, tolong ambilkan tali ya, dan kamu Inem, jangan lupa siapin hp kamu.” Perintah Ujang kepada mereka berdua.

“Siap atuh Jang!” Jawab Pak Darto, lalu dia buru-buru keluar kamar Inem.

Entah kenapa aku yang semakin panik tak membuatku bergeming turun dari atas pangkuannya, bahkan ketika Ujang menggendong dan menjatuhkanku diatas tempat tidurku, aku hanya diam, seakan aku pasrah menanti nasibku selanjutnya di tangan mereka.

Tidak… aku harus lari, mereka bermaksud buruk kepadaku, aku tidak boleh tinggal diam, aku harus berontak apapun yang terjadi aku harus keluar.

Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuh Ujang hingga ia terjengkang kebelakang, lalu dengan secepat kilat aku hendak melarikan diri tapi sebelum pintu kamar Inem terbuka, Pak Rusman sudah membukanya lebih dulu, sehingga satu-satunya akses bagiku untuk melarikan diri ketutup oleh Pak Rusman.

“Tolong Pak!” Aku memelas untuk terakhir kalinya.
###

Inayah Sipta Renata

“Dicariin, ternyata kamu malah ada di sini!”

“Kangen ya… baru juga di tinggal beberapa menit uda kangen aja Mas!” Kataku menggodanya.

“Gimana gak kangen, kalau dada kamu selalu terbayang di benak Mas. Bikin pekerjaan Mas jadi berantakan tau.” Katanya, sambil mengaduk kopi cappucino miliknya.

Aku memasang wajah imutku. “Ya maaf Mas!” Bisikku lirih sambil memanyunkan bibirku.

“Kamu harus tanggung jawab!”

“Hah?” Kataku kaget. “Emang Aku harus gimana Mas, biar Mas gak kepikiran lagi?” Tanyaku, entah kenapa aku mau saja mengikutin kemauannya.

Dia diam sejenak, lalu matanya melirik sekeliling kantin, kemudian ia tersenyum.

Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini, tapi aku merasa Mas Anton ingin kembali mengerjaiku seperti kemarin-kemarin. Duh… Mas, kamu itu kok nakal banget si, bikin Adek serba salah.

“Buka dikit dong” Tuhkan bener.

“Apanya Mas?” Tanyaku pura-pura bingung.

Dia meneguk air liurnya. “Kancing baju kamu buka dua ya, Mas pengen lihat kayak kemarin!” Pintanya, membuatku kembali tegang.

“Mas ada-ada aja ni malu tau!”

“Malu kenapa?” Tanyanya.

“Malulah di lihat orang.”

“Ya kan gak ada orang lain, cuman ada kita berdua, terus ngapain juga kamu malu, Adekkan cantik, seksi lagi… Seharusnya kamu bangga punya dada sebesar itu.” Dia menunjuk dadaku dengan bibirnya.

Aku diam sejenak. “Tapi sebentar aja ya Mas.” Dia buru-buru mengangguk.

Dengan perasaan was-was, sambil melirik kekiri dan kekanan aku membuka dua kancing pakaian dinasku, hingga terlihat belahan dadaku dan bagian atas cup bra yang kukenakan.

Gila… kamu gila Ina, ingat ini di kantin kantor, gimana kalau ada yang melihat kamu? Aahk… kamu sbenar-benar sudah gila.

Tiba-tiba Mas Anton berdiri, kemudian dia mengamit tanganku dan langsung membawaku pergi, aku yang panik hendak kembali menutup kancing seragamku, tapi Mas Anton buru-buru menghetikanku. Entah mau apa lgi dia sekarang.

“Kamu seksi, aku ingin memamerkan keseksian kamu ke semua orang!” Kata enteng mengakakku menuju kantor.

Mas Anton… kamu selalu mampu membustku berada dalam kondisi yang sulit seperti saat ini, tapi aku menyukaimu caramu Mas.
####

Ema Salima Salsabila

Namaku Ema Salima Salsabila, usiaku saat ini 39 tahun, memang usiaku sudah tidak muda lagi, tapi mungkin memang pada dasarnya keluargaku semuanya cantik-cantik dan awet muda, sehingga walaupun usiaku sudah mendekati kepala empat aku masih terlihat cantik dan bentuk tubuhku rasanya tidak perna berubah sedikitpun dari aku remaja hingga sekarang, walaupun aku sudah melahirkan seorang Putri.

Tidak heran kalau Suamiku tidak perna merasa bosan menjamah tubuhku.

Tapi di balik kesempurnaan yang kumiliki malah membuatku kini dalam bahaya, mereka para pembantuku berniat memperkosa diriku.

Aku berbaring diatas tempat tidurku, dengan kedua tangan terikat diatas kepalaku, sementara itu mereka bertiga mengelilingiku, dan Inem satu-satunya pembantu perempuan dirumahku sedang memegang kamera hp yang di arahkan kepadaku.

“Jangan tegang Bu, vidio Ibu tidak akan kita sebar, ini hanya sebagai jaminan!” Ujar Ujang sambil membelai kepalaku yang tertutup kerudung.

“Tolong jangan sakiti saya.”

“Mana mungkin kami berani menyakiti Ibu.”

“Bener Bu, yang ada kami malah ingin membuat Ibu merasakan surga dunia.” Timpa Pak Darto, kurasakan tangannya membelai betitsku, terus naik hingga melewati lututku dan menuju kepahaku.

Aku yang panik berusaha memberontak, tapi dengan cepat Ujang memanggut bibirku, ia menghisap bibirku dengan perlahan, memaksaku membuka mulutku dan menghisap, membelit bibir dan lidahku. Sementara tangan kanannya kembali hinggap diatas payudaraku.

Oohkk… Tubuhku menggeliat!

Kenapa dengan diriku ini, ciuman Ujang terasa begitu menyentuh, penuh perasaan dan sangat bergairah. “Aahkk… ” Tangan siapa itu, kumohooon jangan naik lagi, aku sudah tidak tahan lagi, vaginaku… Aahkk… hentikan, cairanku sudah keluar.

Kurasakan tangan seseorang kini sedang membelai paha bagian dalamku, sementara kedua payudarahku saat ini sedang di remas nikmat di balik gamis yang kukenakan, dan mulutku kini dengan suka rela tanpa perlawanan berarti membalas lumatan Ujang.

Tidak…. Gamisku sudah di singkap keatas, mereka pasti bisa melihat kedua paha mulusku, dan lagi celana dalamku yang berwarna criem pasti sudah lecek karena precum ini tak mau berhenti keluar.

Satu-persatu kancing gamisku di buka dan kemudian “Breaaat….” Seseorang mengoyak gamisku.

Dengan sangat perlahan seseorang menarik kebawah cup braku, sehingga payudarahku berukuran 34C melompat keluar.

Belum hilang kekagetanku, sekilas aku melihat wajah Pak Rusman mendekati payudarahku, lalu… Oh Tuhan… lidahnya menari-nari di sekitaran payudaraku mengelilingi aurolaku, membuat aku semakin tidak tenang, nafasku memburu dan jantungku… Aahkk!

Celana dalamku di tarik… Jangan-jangan aku mohon, siapapun tolong aku, kedua tanganku terikat aku tidak bisa menghentikannya.

Dan… Uuhkk… sapuan apa lagi ini! Aaahkk… Aku tidak tahan lagi….

“Memeknya sudah basah Jang!” Kudengar suara Pak Darto mengomentari vaginaku.

Ujang melepaskan ciumannya. “Ingat, jangan sakiti majikan kita, buat seenak mungkin!” Komentar Ujang, dia menatapku sembari tersenyum.

Kenapa dengan diriku saat ini, aku sedang di perkosa seharusnya aku marah, bukan merasa malu seperti ini, bahkan rasa malu ini terasa lebih besar ketimbang saat aku melakukan malam pertama dengan Suamiku dulu. Apa ini yang di sebut puber kedua? Tidak mungkin, orang tuaku tidak perna mengajarkanku seperti ini.

“Jang, gamis sama kutangnya ganggu ni.” Protes Pak Rusman, seakan Ujang yang usianya lebih muda malah dianggap seperti seniornya.

“Guting aja Pak, tapi hati-hati!” Perintah Ujang, lalu kurasakan gamisku di gunting dan brakupun ikut di gunting hingga aku benar-benar telanjang bulat menyisakan kaos kaki sewarna dengan warna kulitku, dan kerudungku yang berwarna biru. “Maaf ya Bu gamisnya kami rusak, tapi besok-besok gak akan lagi.” Bisik Ujang, dia mengecup lembut pipiku.

“Jangan Mas, kasihani aku.” Aku kembali memelas.

Tapi yang terjadi kedua payudarahku kembali di gerayangi mereka berdua. Ujang di sebelah kanan menghisap dan menjilati puttingku, sementara Pak Rusman di sebela kiriku sedang menggigit, dan menekan putting payudarahku.

Perlahan kakiku di lebarkan, dan kurasakan jilatan di paha kananku, lalu bergantian dengan paha kiriku.

Aaahkkk… Kepalaku mendongak keatas ketika ujung lidah Pak Darto membelai bibir vaginaku, rasanya… Ya Tuhan, Aahkk… Aku belum perna merasakan ini, Suamiku tidak perna mau melakukan ini.

Pak Darto begitu lihai memainkan lidahnya, dia mengecup dan menghisap clitorisku, membuatku di paksa untuk bertahan mati-matian agar tidak mendesah sanking nikmatnya, rasanya aku ingin mulutku di sumpal, atau di lakban agar aku tidak perlu mengerang ataupun mendesah nikmat seperti ini.

Lidah Pak Darto menari-nari, melakukan gerakan naik turun dan terkadang melingkar.

Kemudian kurasakan lidahnya menyeruak masuk kedalam vaginaku, dan menari-nari di sana membuatku semakin tidak tahan. “Aaahkk… Pak!” Aku mendesah… Oohk… Akhirnya aku tidak tahan lagi.

Rasanya terlalu geli nikmat di payudarahku ataupun di vaginaku. Aku merasa sedikit lagi aku mau pipis, dan perasaan ini semakin membuatku meras bersalah.

Maafkan aku Mas, aku mencintaimu tapi ini terlalu menyiksaku Mas.

“Aku… dapeeeeet!” Aku memekik ketika orgasme melandaku.
####

Tiga
Pov Toni

Marah, benci dan cemburu… Semuanya menjadi satu, ketika aku meliihat Irwan yang sedang bercengkrama dengan Bunda di dapur. Irwan sibuk mengaduk masakan, sementara Bunda sibuk mengiris bawang merah.

Sementara aku di sini, di balik tembok ini aku melihat Bunda yang sedang mengobrol ringan, sesekali ia tertawa mendengar lolucon Irwan.

Seandai saja Bunda tau, siapa yang memukulku, akankah Bunda membelaku? Bunda… selama ini Mas Irwan yang suka memukulku, dia suka mengambil uang jajanku, tapi Bunda malah semakin dekat dengan orang yang selalu membuat putramu ini terluka.

Rasanya aku ingin menangis kalau melihat Bunda yang begitu dekat dengan orang yang paling sangat kubenci.

“Bun! Ini sudah mateng belom?”

Bunda melihat sebentar kearah sup yang sedang di masak.” Sebentar lagi…” Jawab Bunda. “Oh ya Wan, emang kamu gak ada pr?” Tanya Bunda.

“Ada Bun, emangnya kenapa?”

“Kalau ada pr, mending kamu kerjain dulu, biar sisanya Bunda yang nanti menyelesaikannya.” Kulihat Bunda tersenyum kearah Irwan, senyumannya manis seperti biasanya, tapi senyuman itu membuat hatiku makin panas.

“Pr-nya bisa Irwan kerjakan nanti Bunda, tapi kalau untuk bantuin Bunda, Irwan gak bisa menundanya.” Gombal… Si anjing itu memang paling pintar ngegombal, bikin darahku semakin naik.

“Hahaha… kamu itu paling pintar ya bikin Bunda seneng, coba kalau seandainya Toni seperti kamu, suka membantu pekerjaan Bunda, mungkin Bunda bisa sedikit bersantai.”

“Emang Toni kenapa Bunda?”

“Anak itu terlalu di manja, didi manja, jadinya sampe segede ini dia tetap manja, apa-apa harus di layani.” Jelas Bunda, membuatku semakin iri dengan Irwan, dia dengan mudanya bisa mengambil hati Bunda, sementara aku? Bunda selalu mengaggapku seperti anak kecil”

“Auuuww…” Aku kaget saat melihat tangan Bunda tiba-tiba berdarah

Tapi aku lebih kaget lagi ketika Irwan tiba-tiba mengambil tangan Bunda, lalu dia menghisap darah yang keluar dari jari telunjuk Bunda. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang sok baik di depan Bunda, aku segera menghampirinya dan kemudian mendorong tubuh Irwan kebelakang.

Bunda dan Irwan sangat kaget melihat aku yang sudah berdiri diantara mereka.

“Toni?”

“Bunda… Toni gak suka Bunda dekat sama Mas Irwan! Dia yang memukuli Toni Bunda, lihat wajah Toni sampa babak belur kayak gini!” Aku menangis, aku sudah tidak tahan lagi melihat Bunda yang terlalu dekat dengan Mas Irwa.

Aku menatap Toni dengan padangan menantang, aku tidak takut lagi dengannya. Aku yakin Bunda pasti mempercayaiku, karena aku anaknya, sementara Irwan, dia cuman menumpang hidup di rumahku, dia orang yang tidak tau malu.

“Apa maksud kamu Ton?” Tanya Bunda heran.

Aku mengelap air mataku. “Setiap hari dia memukulku Bunda, uang jajanku selalu di ambil, aku sangat membenci dia Bunda.” Aduku sambil mendorong tubuh Irwan hingga ia kembali terjengkang.

Baru kali ini aku benar-benar merasa puas, akhirnya aku bisa melawannya.

“Apa itu benar Wan?”

Irwan berusaha berdiri, dia hanya diam saja tak berani memandangku maupun Bunda. Aku tau saat ini dia sedang ketakuttan, kalau kami akan mengusirnya dari rumah ini. Tapi akan kupastikan dia keluar dari rumah ini.

Bunda mendesah pelan. “Jawab Bunda Irwan?” Ulang Bunda.

Irwan mengangkat wajahnya, dia memandangku lalu memandang kearah Bunda, kemudian kulihat ada air mata yang mengalir di pipinya.

“Maafin Irwan Bunda, Maafin aku Ton!”

“Irwan, tolong kamu jujur sama Bunda, kenapa kamu suka memukuli Adik kamu?” Tanya Bunda, aku senang sepertinya Bunda sangat marah.

“Toni… Mas tau, dari awal kamu memang sudah sangat membenci Mas, walaupun Mas gak tau apa alasan kamu begitu membenci Mas, tapi Mas akan pergi dari rumah ini kalau itu yang kamu mau. Dan Maafkan Mas karena tidak bisa melindungi kamu selama ini.” Sial… dia pikir aku akan terpengaruh dengan caranya menangis seperti itu.

Tidak Mas Irwan, aku sangat membenci dirimu, aku tidak akan perna memaafkan kamu. Selama ini kamu selalu memukuliku, dan memperlakukanku seperti binatang, hari ini aku akan membalas semua perbuatan kamu selama ini.

“Bunda tidak mengerti, apa yang sebenarmya terjadi diantara kalian.”

“Irwan cukup sadar diri Bun, aku di sini hanya tamu, tapi… kenapa aku di tuduh memukuli Toni.” Dia menatapku tajam, kemudian tersenyum mengejek. “Aku tau kamu sangat membenciku Ton, tapi kalau kamu tidak suka aku di sini, kamu tinggal bilang, tidak perlu mengusirku seperti ini Ton!” Katanya balik menyerangku, membuatku cukup kaget dengan kata-katanya.

“Bunda Toni tidak bohong.” Buru-buru aku membela diri.

Bunda menoleh kearahku. “Toni?”

“Dia berbohong Bunda, selama ini dia selalu memukulku, tapi selama ini aku selalu diam.” Kataku meyakinkan Bunda.

“Bunda tidak perna mengajarkanmu berbohong, apa lagi sampai menuduh orang lain seperti itu. Dari awal Bunda melihat sepertinya kamu memang tidak perna menyukai Masmu.” Inilah… yang selama ini aku takutkan, kenapa aku tidak perna mau mengadukan perbuatan Irwan kepadaku.

“Bunsa aku tidak berbohong!”

“Bunda sangat mengenal Masmu, selama ini dia tidak perna berbohong, dan lagi dia anak yang baik, suka membantu Bunda.”

“Tapi Bun…”

“Cukup Nak! Kembali kekamar kamu, mulai besok uang kamu Bunda potong.” Astaga…! Bagaimana mungkin Bunda lebih mempercayai orang lain ketimbang diriku sebagai anak kandungnya.

Aki sudah tidak tahan lagi, dari awal seharusnya aku sudah tau kalau Bunda pasti lebih mempercayai Mas Irwan.

Aku berlari menuju kamarku, sambil menangis, sebelum aku meninggalkan dapur, dia, bajingan itu sempat tersenyum mengejekku. Besok nasibku akan jauh lebi buruk dari hari ini.
###

Ema Salima Salsabila

Secara bergantian aku memandangi wajah dan selangkangan seorang pemuda yang saat ini sedang melepaskan ikatan kedua tanganku. Kulihat wajah itu terlihat begitu tenang, tanpa beban bagaikan air yang mengalir, tapi berbanding kebalik saat mataku melihat selangkangannya. Kulihat ada daging tumbuh di sana dengan ukuran yang aku tak tau pasti seberapa besarnya, tapi yang pasti, benda besar berkepala jamur itu jauh lebih besar ketimbang milik Suamiku.

Deg… didalam hati aku terus meminta maaf keSuamiku atas apa yang telah terjadi saat ini, dan memohon ampun kepadanya.

Setelah kedua ikatan tanganku terlepas, pemuda itu menggeser posisinya. Tangan kirinya mengangkat kaki kananku, menekuk dan menopang bagian belakang lututku, hingga kakiku melayang beberapa centi dari atas kasur pembantuku Inem.

Dia memposisikan tubuhnya diantara kedua kakiku, lalu kurasakan gesekan lembut yang memberi sejuta kenikmatan diantara belahan vaginaku yang sudah membanjir basah.

Sementara itu Inem pembantuku mengarakan kameranya didaerah selangkanganku.

“Ibu sudah siap?” Bodoh… dia malah bertanya seperti itu kepadaku.

Aku mendesah berat. “Jangan Mas Ujang, ini dosa besar, kita tidak boleh seperti ini, kamu pasti mengerti apa maksudku? Apa lagi aku sudah bersuami, jadi tolong hentikan permainan gila ini.” Kataku malah terdengar seperti memohon kepadanya untuk tetap melanjutkan permainan ini.

“Aaahkk…” Wajahku mendongak keatas tatkala kepala jamur itu mulai beraksi.

Tangan Ujang meraih payudarahku, dia meremasnya cukup keras sambil jemarinya memencet dan memelintir puttingku, membuatku merintih nikmat, membuatku semakin tidak tahan ingin segera di setubuhi olehnya.

“Percayalah, Ibu pasti menyukai dosa ini!”

Dia berujar sambil mendorong pinggulnya, menekan penisnya yang terus masuk kedalam lorong vaginaku, menembus leher rahimku, membuat mataku terbelalak kaget, sanking panjangnya penis Mas Ujang.

Dia tersenyum, wajahnya menggambarkan kepuasan karena telah berhasim menancapkan senjatanya jauh di dadalam tubuhku.

Aku menggigit bibirku, menahan perih yang bercampur nikmat di dalam vaginaku yang langsung meresponnya, dengan cara menjepit erat penis milik pembantuku itu.

“Memek Ibu rasanya nikmat sekali, masi ngejepit erat kontolku! Padahal Ibu sudah tidak perawan dan perna melahirkan, tapi… Aahkk!” Erang Ujang saat ia menarik perlahan penisnya, kemudian ia mendorongnya lagi hingga mentok.

Tidak… Jangan seperti ini, aku sudah bersuami, tolong hentikaan….

Tanpa bisa berbuat apapun Ujang melesatkan penisnya semakin lama semakin cepat, memompa dan menusuk vaginaku dengan hentakan-hentakan kecil membuat tubuhku terguncang dan rasa ngilu bercampur nikmat di sekujur tubuhku.

“Aaaahkk… Mas Ujaang! Aaaahh… Ah….” Aku memohon, menggeleng-gelengkan kepalaku sankin nikmatnya tusukan yang di berikan Ujang.

Maafkan aku Mas… Maafkan Istrimu ini yang sudah mengkhianati janji suci kita, tapi penis Ujang rasanya… Aahkk… jaug lebih nikmat ketimbang saat kamu melakukannya.

Kupandangi ekspresi wajah Ujang yang tampak begitu puas karena telah berhasil menyetubuhiku.

Ekpresi itu sangat wajar, siapapun yang berhasil menyetubuhi wanita sepertiku, pasti akan merasa sangat bangga dan merasa sangat beruntung bisa merasakan jepitan dinding vaginaku.

Lihatlah diriku, seorang wanita yang selama ini selalu menjaga penampilannya dan selalu menjunjung tinggi harga dirinya sebagai seorang wanita yang telah bersuami. Sedang berbaring hanya mengenakan kaos kaki dan kerudung lebar yang sudah acak-acakan dan parahnya lagi, seseorang pemuda berstatus sosial rendah sedang menyetubuhi dirinya selaku majikannya.

“Gimana rasanya Bu? Enakkan?” Dia tersenyum mengejekku.

Tapi apa yang ia katakan memang benar, dosa ini terlalu nikmat untuk kuabaikan begitu saja, karena rasa ini tak perna kurasakan sepanjang pernikahanku bersama Suamiku.

“Mas… aku pipis lagi!” Rintihku dengan teriakan penuh gairah.
###

Asyfa Salsabila

Bruaaak…

Tubuhku terjengkang kebelakang dan buku yang kubawak berserakan di lantai koridor sekolah,ketika tak sengaja aku menabrak seseorang pria yang berada di depanku. Ternyata pria itu juga tidak melihatku karena terlalu sibuk dengan hpnya.

Tentu saja aku ingin marah, tapi setelah menyadari siapa yang kutabrak membuat nyaliku ciut.

Kalau di lihat dari pakaiannya, aku yakin dia salah satu guru di sekolahku, tapi siapa? Aku sendiri merasa tidak perna melihatnya. Tapi kudengar dari gosip yang beredar dari teman-teman di sekolah, akan ada guru baru yang katanya sangat keren mengajar di sekolahku.

“Maaf, kamu baik-baik saja?” Tanyanya, sambil membereskan buku-buku milikku yang berserakan di lantai.

Aku yang terpukau dengan ketampanannya, tak bisa berkata apa-apa, aku masih diam berada di posisiku, hingga mata kami bertemu dan… “Astafirullah…” Buru-buru aku membenarkan posisi rokku yang tersingkap.

Mukaku langsung merah padam karena menahan rasa malu. Aku yakin guru baru itu pasti sudah melihat celana dalamku.

Duh… kok aku sebego ini sampe gak sadar kalau rokku tersingkap. Dan lagi… kenapa, jantungku jadi berdetak sekencang ini, sebenarnya ada apa denganku, baru kali ini aku merasakan perasaan aneh seperti saat ini.

“Eehmm… “Dia berdehem untuk menyadarkanku dari lamunanku, segera aku beridiri. “Ini buku kamu, lain kali hati-hati ya.” Ujarnya sembari tersenyum dan menyerahkan bukuku, kemudian dia melangka pergi meninggalkanku sendiri.
###

Ema Salima Salsabila

Kini aku sedang duduk diatas selangkangan Ujang, tubuhku terguncang naik turun, sementara di sisi kiri dan kananku ada Pak Darto dan Pak Rusman, mereka memintaku mengocok penis mereka yang barukuran sangat besar.

Walaupun aku jijik dan merasa sangat berdosa terhadap Suamiku, tapi aku tetap melakukannya.

Kedua tanganku dengan penuh irama bergerak maju mundur mengikuti irama hentakan pinggulku, sementara itu tangan mereka juga tidak tinggal diam, sedari tadi meremasi payudarahku.

“Masi lama Jang?” Tanya Pak Darto, sepertinya ia sudah tidak sabar menunggu gilirannya.

“Masih kayaknya Pak, soalnya ini enak banget, sayang kalau buru-buru keluar.” Jawab Ujang, yang sedang menikmati penisnya di jepit oleh vaginaku. “Kita main kayak biasa aja Pak!” Sambung Ujang, aku tidak mengerti apa yang di maksud main kayak biasanya yang seperti yang di katakan Ujang.

“Serius boleh, masi perawan loh Jang!”

“Gak apa-apa Pak! Makan aja.” Ujar Ujang, kemudian kedua tangannya melingkar di panggangku yang ramping.

Dengan sedikit dorongan, tubuhku rebah diatas tubuh Ujang, hingga payudarahku menempel ketat diatas dadanya, kemudian Ujang mempererat pelukannya hingga aku tak bisa bergerak, sementara itu Pak Darto menghilang dari sampingku, dan Rusman tiba-tiba sudah berdiri di depanku memamerkan penisnya.

Aku tidak tau apa yang mereka inginkan, tapi tiba-tiba pipi pantatku di buka, dengan bersamaan kurasakan ada benda besar yang ingin masuk kedalam anusku. Segera aku menoleh kebelakang dan… “Astafirullah.” Benda besar milik Pak Darto sudah menempel di anusku.

Tubuhku langsung meronta, tapi pelukan Ujang yang erat membuatku tak bisa bergerak. “Jangaaan Pak! Yang itu saya belum perna!” Aku memohon kepada mereka agar tidak memasuki anusku.

Selain karena takut anusku robek, aku juga merasa aneh kalau sampai lobangku di masukin penis Pak Darto, melihat Inem barusan di anal aku sudah merasa jijik, apa lagi kalau anusku yang di masuki, rasanya sangat memalukan dan menjijikan.

Membayangkannya saja aku sudah ingin muntah, apa lagi sampai melakukannya.

“Jangan di lawan Bu, nanti rasanya makin sakit, rilex aja… Nanti Ibu pasti ketagihan tiga lobangnya di masukin! Saya aja ketagihan.” Kata Inem, dia mengarahkan kameranya di selangkanganku.

“Tahan ya Bu.”

“Tu… tunggu Paaak…” Aku memekik pelan saat anusku di masuki kepala penis Pak Darto.

Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu seperti tak perduli dengan ucapanku, dia tetap memaksakan penisnya masuk semakin dalam keanusku, hingga aku merasa anusku dipaksa membuka selebar mungkin.

Mataku terbelalak dan mulutku terbuka lebar sanking sakitnya.

Dan sialnya Pak Rusman memanfaatkan mulutkku yang terbuka dengan menjejalkan penisnya kedalam mulutku.

Jadi ini yang di katakan Inem tiga lobang tadi? Aahk… rasanya sakit tapi kenapa aku merasa begitu seksi dengan kondisiku seperti saat ini. Seorang wanita jilbaber melayani tiga pria sekaligus rasanya agak aneh dan memalukan tapi pasti terlihat sangat menggairahkan.

Kucoba untuk membiasakan diriku dengan kondisiku saat ini, dan ternyata memang benar apa yang dikatakan Inem, aku mulai menikmatinya.

Mereka bertiga secara serempak menggoyang pinggul mereka, memenuhi ketiga lobangku yang paling berharga, bahkan Suamiku sendiri belum perna merasakan ketiga lobangku.

“Pantatnya Ibu enak loh, keseet banget! Bapak belum perna coba ya Bu?” Tanya Pak Darto, sambil menyodomiku dia menampar kecil pantatku.

“Ya pastilah belum perna, mana ngerti Bapak yang enak-enak, benerkan Bu?” Timpal Pak Rusman, dia mencabut penisnya dari mulutku, sehingga aku bisa menarik nafas dengan bebas.

Aku mendesah nikmat. “Tidak perna… Aahkk… Soalnya ini tidak boleh, ini biang penyakit! Aahkk… Sudah… aku tidak mau lagi.. Aku Hhmmpp…” Mulutku kembali di sumpal oleh penis Pak Rusman, ia kembali menggoyangkan pinggulnya.

Mereka semua sangat kurang ajar, dan berani memperlakukanku seperti binatang.

Lima menit kemudian, Ujang mengerang bersamaan denganku, kami mencapai puncaknya bersama-sama. Lalu di susul oleh Pak Rusman yang memuntahkan spermanya di dalam mulutku, dan sebagian spermanya tertelan olehku, sebagian lagi mengenai wajah dan kerudungku.

Rasanya sangat aneh saat aku menelan sperma Pak Rusman, karena ini adalah pengalaman pertamaku menelan sperma, tapi entah kenapa aku merasa seperti menyukainya.

Tinggal Pak Darto yang belum keluar, ia semakin cepat menggoyang pinggulku.

“Bu… saya mau keluar!” Erangnya.

Aku menggigit bibirku karena aku juga ingin keluar untuk kesekian kalinya. “Paak…” Rintihku pelan saat orgasmeku datang, lalu di susul Pak Darto yang menyirami anusku.
###

Inayah Sipta Renata

“Kita mau kemana Mas?” Tanyaku, saat Mas Anton membelokan mobilnya kekanan, bukan kekiri kearah rumahku.

“Kita makan bentar ya! Sekalian ada yang ingin Mas omongin sama kamu.”

“Penting ya Mas?”

Dia menoleh kearahku. “Bangeet!” Jawabnya tersenyum.

Tak lama kemudian kami tiba di sebuah rumah makan terapung. Mas Anton segera memakirkan mobilnya, lalu ia mengajakku nemilih tempat yang agak mojok, menghadap langsung kedanau.

Tak lama pelayan menghampiri kami, Mas Anton segera memesan bebek bakar beserta dua jus mangga.

“Emang Mas mau ngomong apa si?” Tanyaku bingung.

“Mas bingung mau mulai dari mana.”

“Tumben, Mas grogi ya?” Godaku, dia tertawa renyah lalu menggenggam erat tanganku.

“Gimana gak gerogi kalu di dekat Mas ada bidadari secantik kamu.” Uh… dia lagi-lagi ngegombalin aku, tapi aku menyukainya.

“Berani?” Kuremas jemarinya dengan kuat. “Aku aduhin sama Mas Hasan loh!” Ancamku, tentu saja aku bercanda, aku tidak akan mengadukan perbuatannya, mau senakal apapun dirinya.

“Emang kamu tega?” Balasnya.

Aku tersenyum, lalu ketika aku hendak kembali menyampaikan argumenku, pelayan datang mengantarkan pesanan kami berdua.

Alhasil kami menghentikan obrolan kami, dan segera melahap habis makanan yang ada di hadapan kami, sesekali aku mencuri pandang kearah Mas Anton, dia sangat berbeda dengan Suamiku yang lebih pendiam dan sangat baik. Kalau Mas itu Anton ini tipe cowok yang suka ngenggombal dan sangat nakal.

Kurang lebih setanga jam kemudian kami telah menyelsaikan makan malam kami, tapi kami tak langsung beranjak pergi.

Kami menghabiskan malam dengan mengobrol ringan, sesekali aku tertawa dan meringis ketika ia mulai kumat dan suka menggombaliku seperti biasanya. Tapi, ya… seperti yang kukatakan sebelumnya aku suka saat ia menggombaliku, rasanya gimana gitu…

“Eh tadi katanya mau ngomong, emang kamu mau ngomong apa?” Tanyaku teringat dengan perkatannya sebelumnya.

“Aku bingung mau mulai dsri mana.”

“Udah santai aja, emang kamu mau ngomongin soal apaan ni?”

“Kitakan udah lama kenal, dan lagi kita juga sudah punya pasangan masing-masing….” Dia diam sejenak, sambil menatap mataku.

Entah kenapa perasaanku jadi tak tenang. “Terus…!” Kataku tak sabar.

“Menurut kamu salah gak, kalau aku jatuh cinta sama kamu. Ya… aku tau ini gila, tapi aku serius.” Dia semakin erat menggenggam tanganku.

“Maaf Mas, aku gak ngerti.” Kataku getir.

“Maafin Mas, kalau ucapan Mas ini membuat kamu merasa tidak nyaman, Mas hanya ingin jujur dengan perasaan Mas saat ini, semoga kamu mau mengerti dan tidak membenci Mas.”

“Aku bingung harus jawab apa Mas, kurasa Mas juga tau aku sudah bersuami, dan Mas juga sudah punya Istri, rasanya kita tidak mungkin bersatu.”

“Mas tidak meminta kamu untuk menceraikan Suami kamu Ina. Mas hanya ingin kamu tau, kalau Mas sangat menyayangimu, dan berharap Mas bisa menjadi kekasihmu, walaupun itu hanya sebatas sebagai kekasih gelapmu. Mas tidak memita lebih.”

“Aku belum bisa jawab Mas.”

“Mas mengerti.” Ujarnya tersenyum. “Oh iya, Mas kemarin jalan-jalan gak sengaja melihat sesuatu yang menarik, Mas pikir kamu pasti menyukainya, jadi Mas belikan ini untukmu.” Sambungnya, lalu ia mengambil sesuatu di dalam sakunya.

Dia berjalan di belakangku, lalu kulihat dia melingkarkan sesuatu di leherku.

Ini… kalung berlian, aku tau ini harganya pasti sangat mahal sekali. Oh… Mas Anton, kamu begitu mengerti apa yang kuinginkan, berbeda dengan Suamiku, jangankan membelikanku perhiasan, menafkahiku saja dia sudah tidak mampu.

“Bagus banget Mas!”

“Kamu suka?” Aku mengangguk sembari tersenyum.

“Sangat suka Mas!”

“Itu untukmu… Orang yang sangat Mas sayangi!” Katanya, lalu ia mengecup pipiku.
###

Emi Sulia Salvina

Sekitar jam 12 malam, aku terbangun karena ingin buang air kecil. Kulihat putra semata wayangku Toni masih terlelap, sepertinya ia sedang bermimpi indah.

Sebenarnya Toni anak yang baik, jangankan menyakiti manusia, menyakiti binatangpun dia tak mampu, tapi entah kenapa tadi pagi dia sangat emosional terhadap sepupunya Irwan. Bahkan ia sempat menuduh Kakaknya sendiri yang memukulinya.

Eehhmm… Aku pasti akan mencari tau penyebabnya kenapa ia bisa seperti ini.

Oh… iya namaku Emi Sulia Salvina usiaku saat ini 35 tahun, sementara Suamiku Andre bekerja di Jakarta, biasanya ia pulang satu bulan sekali, bahkan tak jarang lebih lama dari itu.

Karena aku tipe wanita penakut, sehingga aku selalu meminta putraku untuk menemaniku tidur berdua di dalam kamarku, ketika Suamiku sedang tidak berada di rumah. Walaupun aku tau saat ini Toni sedang beranjak remaja, tapi aku merasa lebih aman tidur bersamanya.

Aku turun dari tempat tidurku, lalu mengambil kerudung rumahan berbahan kaos.

Perlahan aku melangkah keluar kamar agar tidak membangunkan putraku. Selesai buang air kecil, kulihat tv di ruang keluarga masih menyala, terakhir yang menonton adalah putraku, kupikir ia pasti lupa mematikan tvnya. Tapi ketika langkah kakiku memasuki ruang keluarga, aku mlihat ada seseorang yang sedang menonton tv.

“Irwan… kamu belum tidur?” Aku menghampiri Irwan yang sedang tiduran di sofa.

Melihat kedatanganku, Irwan buru-buru bangun. “Belum ngantuk Bunda.” Jawab Irwan, sembari menggeser posisi duduknya ketika aku hendak duduk.

Aku mendesah pelan. “Ini sudah jam dua malam, nanti besok kamu bisa kesiangan!” Kataku mengingatkan dirinya. Jujur saja aku masih merasa bersalah terhadapnya atas sikap anakku tadi pagi, aku takut ia masih tersinggung dengan perkataan anakku.

“Sebenarnya aku berencana mau pulang Bun, mau bantu Ibu Bapak di kampung?”

“Loh… kok pulang, kamu mau pindah sekolah?”

“Gak kok Bund, aku mau bantu Bapak aja di sawah, mereka mana ada uang Bun! Lagian sekolah di kampung jaraknya agak jauh Bunda.” Tuturnya, membuat hatiku miris mendengarnya.

“Kamu uda bosan sekolah?”

Dia tersenyum getir. “Iya gaklah Bunda, sekolah itu penting buat masa depan!” Jelasnya.

“Kenapa kamu mau berhenti? Kamu masih marah sama anak Bunda?” Tanyaku, dia hanya diam berarti dugaanku benar. “Bunda juga tidak mengerti kenapa Toni bisa menuduh kamu seperti itu, tapi yang pasti Bunda percaya sama kamu.” Jelasku, bagaimanapun caranya aku harus bisa membujuknya untuk tetap tinggal.

Dia menggeleng pelan. “Aku tidak marah sama Toni Bunda, aku mengerti kenapa Toni seperti itu, kalaupun aku berada di posisi yang sama seperti Toni, akupun juga pasti melakukan hal yang sama.” Jelasnya.

“Maksud kamu?”

“Toni cemburu sama Irwan.” Katanya, kemudian dia merebahkan kepalanya di pangkuanku, tapi aku hanya diam membiarkannya tiduran di pangkuanku. “Selama ini Toni selalu di manja, selalu mendapatkan perhatian lebih dari Bunda, tapi tiba-tiba mendadak aku hadir di keluarga ini, membuat dia resah kalau nanti aku mengambil Bunda darinya.” Aku mengangguk paham maksud perkatannya.

Wajar saja kalau ada kekhawatiran yang dirasakan anakku, karena selama ini ia tidak punya saingan untuk mendapat perhatian dariku, tapi tiba-tiba Irwan hadir, dan sedikit banyak mungkin anakku mulai merasa terancam dengan kehadiran Irwan, tapi yang kusesalkan adalah caranya. Dia tidak perlu menuduh Irwan agar di usir dari rumah ini, dia hanya bersikap sedikit lebi baik.

“Maafkan Toni ya Wan!”

“Toni sudah kuanggap seperti adikku sendiri.” Jawab Irwan, sembari tersenyum kepadaku.

“Berarti sudah tidak ada masalah lagikan? Kamu bisa melanjutlan sekolah di sini, Bunda pasti merasa kesepian kalau kamu pulang.” Kubelai rambutnya dengan perlahan, menandakan kalau aku sangat menyayanginya.

“Maafkan Irwan Bunda, tapi…. Irwan juga kangen Ibu.”

“Kan ada Bunda di sini, walaupun Bunda bukan Ibu kandung kamu, tapi Bunda juga sangat menyayangi kamu, sama seperti Ibumu” Jelasku, lalu kukecup lembut keningnya.

“Aku tau Bunda, selama ini rasa kangenku terobati setiap berada di dekat Bunda, tapi ada satu kebiasan Irwan lakukan sama Ibu, dan itu tidak mungkin bisa aku dapatkan dari Bunda.” Aku merenyitkan dahiku.

“Apa itu sayang?”

“Irwan malu Bunda.”

“Kok malu, Bunda akan melakukan apapun asal kamu mau tetap tinggal di rumah ini.” Kataku sembari tersenyum kepadanya.

“Janji Bunda tidak akan marah?”

“Janji!” Jawabku cepat.

“Jujur Bunda, walaupun aku sudah besar, tapi Ibu selalu memanjakanku, bahkan tak jarang memperlakukanku seperti balita, misalkan…” Dia menggantung ucapannya. “Setiap kali aku mau tidur, aku punya kebiasaan nenen sama Ibu!” Dia mengakhirnya dengan memalingkan wajahnya kekanan.

Astaga….! Anak sebesar ini masi suka nenen?

Entah kenapa aku jadi teringat cerita sahabatku, kalau putra bungsungnya masi suka menciumi tekiaknya atau mengendus-endus tubuhnya, kalau ia melarang putranya melakukan itu, anaknya pasti ngambek gak mau makan dan sekolah.

Tapi usia anaknya saat ini masih 9 tahun dan bisa maklumi, tapi Marwan?

“Jangan cerita kesiapa-siapa ya Tan? Marwan malu kalau sampe ada orang lain yang tau, ini biar menjadi rahasia kita berdua.” Aku mengangguk.

Entah kenapa ada perasaan kasihan melihat Irwan yang tampak menderita, di sisi lain aku bisa mengerti dan memaklumi kebiasaannya tersebut, tapi di sisi lain diriku menolak untuk mengganti posisi Ibu kandungnya yang terbiasa membiarkan Irwan menghisap payudarahnya walaupun anak ini sudah remaja.

Tapi Irwan sudah kuanggap seperti anak kandungku sendiri, apa salahnya kalau aku melakukan apa yang biasa di lakukan Ibunya, toh Irwan bukan anak yang nakal.

Tapi… tapi… Aaarrr… sial kenapa aku jadi deg-degkan seperti ini, ayo Emi cepat ambil keputusan, kamu ingin Irwan pulang kekampung halamannya atau kamu menginginkan Irwan tetap tinggal dirumahmu?.

Bagaimanapun juga dia bukan anak kandungku, dan bisa saja nanti dia terangsang? Aah… tidak mungkin, Irwan terlalu polos untuk terangsang, lagi pula kalau Irwan sampai pulang kekampung halamannya, apa yang harus kukatakan kepada Suamiku, bisa-bisa ia marah karena aku di anggap tidak becus mengurus Irwan.

“Irwan!” Panggilku lirih.

Entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja aku membuka kancing gaun tidurku, lalu dengan perlahan kuselampirkan bagian atas gaunku kesamping pundakku sehingga aku yang tidak mengenakan bra ketika tidur mempertontonlan payudarahku di hadapannya.

Oh Tuhan… ini untuk kali pertama aku mempertontonkan payudarahku di hadapan anak laki-laki.

“Tante serius?”

“Iya Irwan, Tante serius kok…” Jawabku sembari tersenyum membelai rambutnya.

“Irwan boleh?” Dia menggantung kalimatnya.

Aku mengangguk, kemudian Irwan beranjak bangun duduk di sampingku. Dia menatapku tajam seakan tidak percaya dengan apa yang kulakukan.

Karena melihat Irwan bengong, aku jadi kesal sendiri. “Mau di lihat sampai kapan Wan?” Tanyaku sedikit menegurnya yang dari tadi menatap payudarahku dengan tatapan nanar.

“Ma… maaf Bunda!” Jawabnya.

Lalu dia mendekatkan wajahnya, dan sedikit kemudian payidarah ranumku berada di dalam mulutnya. Ooo… Tuhan! Rasanya sangat nikmat sekali ketika payudarahku berada di dalam mulutnya.
###

Inayah Sipta Renata

Perlahan mobil yang di kendarai Mas Anton berhenti tepat di depan rumahku, kulihat di luar sana Suamiku sudah menungguku. Saat melihat kedatangan mobil kami, Suamiku langsung berdiri tapi ia tidak menghampiriku, kulihat mimik wajahnya tampak sumringah saat melihat kepulanganku bersama Mas Anton.

Entah kenapa, aku menjadi merasa bersalah tehadap Suamiku karena telah membuatnya khawatir.

Saat aku ingin keluar mobil, tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menghentikanku, seolah melarangku untuk segera keluar dari mobil. Aku mendesah pelan, lalu kuputar tubuhku menghadap Mas Anton.

Maafkan aku Suamiku, tapi aku harus menjawab pernyataan cinta Mas Anton sekarang juga, di sini, di hadapanmu walaupun kamu tidak akan melihat ataupun mendengar suaraku, tapi aku ingin kamu tau kalau Istrimu kini bukan hanya milikmu seorang.

Segera aku memeluk Mas Anton kemudian mencium bibir Mas Anton.

Gila kamu Ina…

Aku memanggut bibir Mas Anton sebentar kemudian aku kembali bersandar di jok mobilnya, seraya tersenyum malu-malu di samping Mas Anton.

Mas yang mengerti keadaanku sekarang, berani merangkulku, memandangi wajahku dengan jarak yang sangat dekat. “Jadi jawabannya?” Tanya Mas Anton sambil membuka satu persatu kancing pakaian dinasku hingga terlihat payudarahku yang tertutup bra.

Aku tak langsung menjawab, melainkan membuang muka kearah Suamiku yang di ikuti Mas Anton, selama beberapa detik kami menghadap kearah Suamiku. Lalu kami kembali berpandangan.

“Aku mau Mas!” Bisikku lirih.

Kemudian dia memanggut bibirku dan aku membalas pagutannya, sementara telapak tangannya menyelusup masuk kedalam behaku, meremas payudaraku secara langsung, membuatku merintih nikmat merasakan remasannya di payudarahku.

Aku semakin ganas membalas kumatannya, lidah kami saling membelit nikmat, sementara tangannya semakin kasar meremas payudarahku.

Rem?asannya terasa begitu nikmar, apa lagi ketika kulitnya yang kasar menyentuh puttingku.

Maafkan aku Mas… Maafkan aku Suamiku, tapi caranya, perlakuannya membuatku merasa menjadi wanita yang sesungguhnya, bukan wanita baik-baik yang patuh terhadap Suaminya, maafkan Istrimu ini Mas.

Kami berciuman cukup lama hingga akhirnya Mas Anton melepas pagutan kami ketika Suamiku mendekat.

Buru-buru aku membenarkan kancing seragam dinasku sebelum Suamiku tiba di samping mobil Mas Anton. Segera aku membuka pintu mobil Anton yang di sambut tatapan curiga dari Suamiku.

“Mas… Mbak… aku pulang dulu ya!” Pekik Mas Anton.

Kemudian mobil yang ia kendarai menghilang di balik kegelapan malam.
###

LIMA

Inayah Sipta Renata

Hanya dengan mengenakan handuk aku keluar dari dalam kamar mandi, kulihat Suamiku sedang duduk bersandar diatas tempat tidur kami sambil memainkan hp. Dia sempat melihat kearahku yang sedang berjalan menuju meja riasku.

Aku mematut diriku di depan cermin, memandangi tubuhku dari pantulan yang ada di cermin.

Wajar saja kalau Mas Anton jatuh hati kepadaku, aku memang sangat cantik, kulit putih bersih, payudarah besar membulat. Sungguh aku begitu beruntung memiliki tubuh yang sempurna.

Dari pantulan cermin aku juga dapat melihat Suamiku yang sedang asyik memandangiku, tapi ada satu hal yang membuatku tersenyum geli, saat aku melihat dirinya yang sedang meremas penisnya sendiri. Duh… kalau di ingat-ingat sudah satu bulan ini aku tidak memberinya jatah.

“Pengen ya Mas?” Godaku.

Dia tersenyum kecut. “Bolehkan sayang.” Mohonnya dengan tatapan memelas.

“Mas sudah lupa sama perjanjian kita?” Tanyaku, lalu aku beranjak dari kursi dan berjalan mendekati dirinya yang tampak kecewa.

Aku naik keatas pembaringan, kutatap wajah Suamiku yang sedang di landa birahi. Jujur saja, satu bulan tidak berhubungan badan, membuatku turut menderita, tapi aku harus menghukumnya agar ia lebih giat lagi mencari pekerjaan.

Perlahan jemari lembutku menyentuh wajahnya, dengan sedikit menunduk aku mengecup mesrah keningnya. Kasihan kamu Mas….

“Sampai kapan?” Tanyanya frustasi.

Aku tertegun sejenak. “Sampai Mas dapat pekerjaan yang layak.” Jawabku datar.

“Kamukan tau, aku sudah berusaha, tapi memang belum rejekinya. Masak kamu tega ngeliat Mas seperti ini setiap malam, punya Istri tapi tidak bisa di sentuh.” Rengutnya, rasanya aku ingin tertawa melihat ekspresinya yang terkadang kekanak-kanakan kalau ia tidak mendapatkan apa yang ia mau.

“Mas cintakan sama aku?” Ia mengangguk. “Mas sayangkan sama aku?” Ia kembali menunduk yakin. “Aku juga sangat mencintaimu Mas.” Lanjutku, kembali mengecup kening.

“Kalau begitu, izinkan aku menyentuhmu malam ini saja sayang!” Lagi ia merengek kepadaku seperti balita yang menginginkan susu.

“Ini demi kebaikan Mas, anggap saja ini sebagai motivasi buat Mas agar giat bekerja!”

“Kamu jahat sayang.” Rajuknya.

Seperti biasanya kalau ia lagi ngambek, Suamiku akan memiringkan tubuhnya membelakangiku, tapi itu hanya sesaat tapi besok pasti baik lagi.

-Mas Anton
Ping
Baru sebentar udah kangeen ni…

Ya Tuhaan, Mas Anton bbm aku dan dia bilang kangen kepadaku.

-Aku
Baru juga tadi ketemunya.

-Anton
Brrti km gak kangen ya?

-Aku
Kasi tau gak ya….

-Anton
Ooo… jadi gitu ya… nanti cantiknya hilang loh.

Aku terkekeh pelan saat membaca bbm terakhir darinya. Ada-ada saja Mas Anton ini…

-Aku
Biarin… Mas juga ya rugi

-Anto
Hahahaha…
Jadi kamu kangen gak?

-Aku
Jujur… gak sabar nunggu hari besok

-Anton

Sama… Adek lagi apa?

-Aku
Lagi duduk aja ni, Mas Hasan lagi ngambek

-Anton
Ngambek, Hahaha….
Emang ngambek kenapa?

-Aku
Besok aja aku ceritaan Mas
Mas Anton lagi apa?

-Anton
Lagi mikirin kamu bidadari syurgaku.

-Aku
Gombaaaal…

-Anton
Hahaha….
Gombal Maskan cuman buat kamu
Malam ini kamu lagi pake apa?

-Aku
Ihk… Mas mesum (Duh semenjak kapan aku jadi manja seperti ini.

-Anton
Gak boleh ya, habis kamu ngegemesin sayang.

-Aku
Boleh kok Mas, malahan aku suka Mas gombalin.
Coba tebak aku pake apa? Kalau sayang pasti tau dong apa yang aku pake sekarang.

-Anton
Apa ya…
Kayaknya kamu masi handukkan de?

Jleeek… tebakannya sangat tepat sekali, membuatku semakin mengaguminya.

-Aku
Kok bisa tau Mas (Kagetku)

-Anton
Hahaha….
Namanya juga cinta sayang
Btw, fotoin dong…

Deg… Aku terdiam sejenak, jujur aku memang sering memperlihatkan belahan dadaku kepadanya, tapi lebih dari itu belum perna.

-Anton
Sayang….

Kulihat Suamiku masih memunggungiku, dengan perlahan aku turun dari pembaringan, lalu berdiri di depan kaca besar yang menyatu dengan lemari pakaianku. Ayo Ina, ini demi orang yang kamu sayangi….

Kuarahkan kamera kekaca lemariku yang memantulku lekuk tubuhku, lalu… Cekleek…

Fuuh… Kulihat hasilnya lumayan bagus, cantik sangat seksi.

-Anton
Kamu marah sayang, kalau begitu tidak perlu. (Aku bukan marah Mas, tapi aku malu…)

Segera kukirimkan foto nakalku kepada dirinya, dan mengharapkan respon yang manis darinya, sebuah pujian darinya yang selama ini selalu membuatku melayang kelangit ke tujuh.

-Aku
Bukan marah Mas, tapi malu…

-Anton
Kenapa malu, kamu seksi bidadari syurgaku.

Aku tersenyum membaca, Mas Anton memang paling pintar memuji diriku.

Aku hendak kembali mengetikan sesuatu balasan untuknya, tapi tiba-tiba Suamiku sudah berada di belakangku. Buru-buru aku menyembunyikan hpku kebelakang punggungku. Bisa gawat kalau Mas Hasan sampai tau.

“Kamu bbman sama siapa sayang?” Tanyanya curiga kepadaku.

“Bukan siapa-siapa Mas, sekarang Mas tidur ya, ini sudah malam Mas.” Ujarku memerintahnya untuk segera tidur agar aku bisa bebas berbbman dengan kekasih gelapku.

-Anton
Ping… (terdengar suara dari hpku)

“Coba Mas lihat.”

Aku menggeleng tegas. “Ini rahasi Mas, ngertiin aku ya Mas.”

“Kenapa si kok aku gak boleh lihat, ada yang kamu rahasiain dari aku ya?” Katanya mulai emosi, aku meletakan hpku diatas meja kecil yang ada di samping lemari, lalu aku menarik tangan Suamiku, mengajaknya duduk diatas tempat tidur.

Dia melengoskan wajahku, aku tau dia ngambek… Dan sumpah demi apapun, aku suka setiap kali dia merajuk karena tidak mendapatkan apa yang dia mau dariku.

“Aku mau melihatnya.”

“Mas lagi emosi, aku gak mau ngomong sama Mas dulu, sekarang Mas tidur ya…” Perintahku kepadanya, dia bersungut kesal.

Lalu tanpa memperdulikan dia, aku mengambil hpku, dan membawanya keluar bersamaku dari dalam kamarku.

###

Elvina

Aku baru saja selesai memasak, dan saat ini aku sedang menata makanan diatas meja. Setelah semuanya siap, aku segera beranjak menuju kamar Mertuaku, hendak mengajak Mertuaku makan malam bersama.

Aku melangkah gontai menuju kamar Mertuaku, sesampainya di depan kamar Mertuaku, tiba-tiba aku tidak sengaja melihat Mertuaku yang sedang tiduran dalam keadaan telanjang bulat.

“Astaga…”

Mataku terbelalak, dadaku bergemuruh melihat tangan Mertuaku yang sedang turun naik memainkan penisnya, dan yang membuatku lebih kaget lagi, dan nyaris membuatku jantungan, dia… Mertuaku sedang menggenggam seutas kain berbentuk huruf V yang ia dekatkan kehidungnya.

Ternyata dugaanku selama ini benar, dia yang suka mencuri celana dalamku.

Mas… Tolong aku, apa yang harus kulakukan sekarang? Melabraknya… tidak… tidak… aku tak akan melakukannya, mungkin aku harus menunggu Suamiku pulang terlebih dahulu. Dan membicarakan masalah ini dengannya.

“Eehmmpp… aroma memekmu enak banget nduk, Oooohk…” Aku sangat tertegun melihat dirinya yang sedang menikmati celana dalamku.

Sambil meracau tak jelas, kulihat tangannya mengocok penisnya. Aku tau dia pasti sedang membayangkan tubuhku, menggagahiku seperti ia meniduri banyak pelacur. Tapi… Ahkk… Kenapa dengan diriku.

Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku agar tak mengeluarkan suara.

Jujur saja, ukuran penis Bapak sangat besar, panjang dan gemuk, berbeda dengan milik Suamiku yang ternyata sangat kecil kalau mau di bandingkan dengan miliknya.

Aku jadi teringat cerita sahabatku Aurel, dia mengatakan semakin besar penis pasangan kita, maka rasanya akan jauh lebih nikmat, dan kita bisa mendapatkan orgasme berkali-kali dalam satu malam, dan lagi penis ukuran besar lebih tahan lama ketimbang yang berukuran kecil.

Apakah itu benar? Jujur saja aku tidak tau bagaimana rasanya orgasme, karena setauku ketika Suamiku menyetubuhiku rasanya hanya geli dan sedikit nikmat.

Tapi kalau sekiranya benda sebesar itu masuk kedalam diriku, apakah bisa muat? Oh Tuhan… Apa yang telah kupikirkan, ini salah aku tak boleh membandingkan ukuran penis Suamiku dengan milik orang lain, apa lagi ini milik Mertuaku sendiri.

Aahkk… Kapan kamu pulang Mas, Adek sudah gak tahan kamu tinggal terus.

Kemudian mataku memicing ketika melihat tubuh Mertuaku bergetar, lalu sedetik kemudian. “Aaaaarrr….” Creeeetss… Creetss…

Dari ujung kepala jamurnya, aku melihat lendir kental seperti susu keluar cukup tinggi dan sangat banyak sekali. Seumur-umur selama aku menikah baru kali ini aku melihat penis menembakan sperma hingga keatas dan sebanyak itu.

Milik Suamiku hanya meleleh keluar dan tak sebanyak milik Bapaknya.

Kulihat Mertuaku membersihkan spermanya dengan celana dalamku. Ooo… Tuhan, apakah diriku sebegitu cantiknya sehingga Bapak Mertuaku bisa menjadikanku sebagai objek onaninya.

Deg… Aku baru menyadari kesalahanku, ketika melihat Bapak Mertuaku berbalik dan mendapatkanku yang sedang mengentipnya bermasturbasi. Aku ingin lari tapi sudah terlambat, karena Mertuaku sedang berjalan menghampiriku.

“Sudah lama nduk?” Tanyanya.

Aku mengangguk lemah. “Ma… Ma… Maaf… Eehmm… Anu…. itu… sudaah… sudah… siap!” Kataku gugup, sungguh aku tidak bisa mengendalikan diriku saat ini.

Dia tersenyum hangat kepadaku. “Tidak perlu gugup seperti itu, tarik nafas, lalu hembuskan.”

Aku diam sejenak lalu menuruti perintahnya, tapi mataku tak bisa lipas memandangi benda besar yang ada di selangkangan. Sungguh luar biasa Bapak Mertuaku ini, padahal ia baru saja ejakulasi tapi penisnya tetap berdiri tegak.

“Makan malamnya sudah siap.” Kataku dengan satu tarikan nafas.

“Kebetulan Bapak sudah sangat lapar, oh iya… ini tolong kamu letakan di keranjang kotor.” Deg… Nafasku tercekak saat menerima celana dalamku yang sudah ia nodai dengan spermanya.

Tanpa banyak bicara, aku segera pergi meninggalkan Mertuaku, sembari menahan malu dan sesak di dadaku.

—————

Emi Sulia Salvina

“Ouughkk…”

Kepalaku mendongak keatas, ketika lidah Irwan menari-nari di sekitar aurolaku. Sungguh sentuhan yang membuat seluruh sayrafku merespon, menghantarkan rasa nikmat di sekujur tubuhku, bahkan sedikit demi sedikit cairan cintaku meleleh membasahi celana dalamku.

Dengan lembut dia membuka mulutnya, memasukan payudarahku kedalam mulutnya sembari menatap mataku yang sayu.

Tidaaaak… Aahkkk… ini namanya bukan nenen tapi dia mengulum dan menjilati payudarahku. Sial… Aku tidak tahan lagi, dia… Aahkk… puttingku di gigit kecil olehnya.

“Eehhmm… Wan! Eehkk….”

Aku mendesah lirih ketika ia menghisap puttingku dengan dangat kuat.

Tangan kananku melingkar di bagian belakang kepalanya, sembari menjambak lembut kepalanya dan menekan wajahnya agar mengulum payudarahku. Membuatku kini di landa berahi, apa lagi aku sudah lama di tinggal Suami.

“Waaa… Eehnmpp….”

Sluuupss…. Sluuppss…. Slupppss….

Dia menghisap puttingku, memainkan ujung lidahnya menyentil puttingku yang sentif, membuat puttingku mengeras nikmat.

Tubuhku melinting, cairan cintaku membanjir semakin banyak. Sungguh aku tidak menyangkah kuluman Irwan bisa membangkitkan birahiku, padahal dia masih remaja. Apa lagi dia berasal dari kampung terpencil, rasanya tidak mungkin kalau ia melakukannya dengan sengaja.

“Kenapa Bunda? sakit puttingnya saya hisap”

“Eh… gak apa-apa kok Wan cuman rasanya geli banget, Bunda gak tahan.

“Oooo,…”

“Tahan ya Bun!” Ujarnya, lalu dia kembali mengulum puttingku. “Nenen Bunda enak, Irwan gak akan bosan kalau begini.” Celotehnya santai gak tau aku di sini sangat menderita.

Dekapan tanganku dikepalanya semakin kuat, membuat kulumannya terasa semakin nyata. Sementara tangan kanannya tanpa kusadari sudah berada diatas pahaku.

Dia menghisap putting payudarahku sembari memijit pahaku.

Lima menit kemudian Irwan berhenti mengulum payudarahku. Dia mengangkat kepalanya hingga mata kami berdua.

“Sudah selesai Wan?” Entah kenapa aku merasa sangat kehilangan.

Irwan menggeleng. “Boleh yang satunya lagi Bun? Biar adil….” Katanya, sembari menyingkap pakaianku yang menyembunyikan salah satu aset berharga milikku.

Belum sempat aku memberi jawaban, dia berpindah kesamping kiriku. Kemudian dia melakukan hal yang sama, memanjakan payudara kiriku dengan hisapan dan sapuan lidahnya di aurola dan puttingku.

Tubuhku semakin tak terkontrol, bahkan aku mengerang lebih keras. “Oohk… Wan, Aahkk… Aahkk… udah belum Wan?” Tanyaku mulai panik, karena nafsuku yang semakin tidak bisa kukontrol.

Seakan mengabaikan ucapanku, dia semakin intens menghisap payudarahku, sementara tangan kirinya kini dengan lancang meraih payudarahku.

Dia meremas susuku, di barengi dengan sesekali memilin puttingku.

Aku berusaha menghentikan pergelangan tangannya, karena aku tau ini sudah menjerumus kepelecehan seksual. Tapi sayang, aku seperti tak memiliki kekuatan untuk menyingkirkan tangan setannya yang sedang memilin puttingku.

Kedua kakiku semakin tidak tenang, kadang mengangkang kadang sangat merepat. “Aahkk… Waaaannn…. Aaaaaa….” Aku mulai histeris, rasanya sedikit lagi aku orgasme.

Kurasakan cairan cintaku sudah semakin tak terbentung, dan ketika orgasme itu hampir saja mendatangiku tiba-tiba dengan polosnya, tanpa merasa berdosa dia menghentikan kuluman dan remasannya di payudarahku secara bersamaan.

“Uda dulu Bun, makasi ya Bun…” Aku mengangah, kemudian dia pergi begitu saja.

Oh… Tuhan…..

###

Ema Salima Salsabila

ENAM
Trauma? Mungkinkah? Sepertinya tidak… aku sama sekali tidak merasakan trauma setelah apa yang menimpah diriku tadi pagi, malahan rasa itu… Aahkk… Kenapa Tuhan memberiku ujian yang begitu sangat berat, bahkan diiriku sendiri tak mampu melewatinya.

Tidak, aku salah! Bukankah Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melewati batas kapasitas umatnya? Apakah itu artinya aku bisa melewati ini semua? Entahlah…. biar waktu yang menjawabnya.

“Kamu kenapa sayang?”

Aku menoleh kearah Suamiku. “Eh…” Hanya itu yang keluar dari bibir merahku.

Aku baru tersadar dari lamunanku setelah orang yang paling kucintai di dunia ini menyentuh jemariku dengan tulus.

Aku harus kuat menghadapi semua ini, bukan untuk diriku, melainkan untuk mereka yang aku cintai, Suamiku dan anak semata wayangku. Aku harus bisa tetap tersenyum bahagia di hadapan mereka seakan semuanya baik-baik saja.

“Umi lagi ngelamunin apa?” Tanya Putriku Asyifa.

Aku menggeleng pelan. “Gak ada sayang, kok makannya gak di habisin? Masakan Umi malam ini gak enak ya?” Tanyaku sembari merenyitkan dahiku kepada mereka.

“Yang ada tu Umi, kenapa makannannya dari tadi cuman di sentuh doang tapi gak di makan?” Tembak Suamiku.

Kulihat isi di dalam piringku tak berkurang sedikitpun.

“Paling Umi kepikiran uang bulanan Bi?” Celetuk Putriku, nyaris membuatku tertawa. Bagaimana mungkin anak seusia dirinya mengerti uang bulanan. Sepertinya memang benar apa kata orang tempo dulu, anak zaman sekarang cepat gede.

“Hust… tau apa kamu soal uang bulanan?” Sergah Suamiku, membuat Putriku tersenyum kecut.

“Udah ah… lanjut makan yuk.” Leraiku.

Tak terasa makan malam ini akhirnya bisa kulalui seperti biasanya, walaupun jauh di lubuk hatiku ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Kejadian tadi pagi benar-benar banyak menyita pikiranku. Aku tidak menyangkah bisa mengalami hal seperti ini, di balik kesempurnaan yang kumiliki bersama keluarga kecilku.

Selesai makan, aku kembali kedapur sambil membawa piring kotor untuk di cuci.

Walaupun di rumah ini kami memiliki seorang pembantu rumah tangga, tapi untuk melayani keluargaku, aku jauh lebih suka melakukannya sendiri ketimbang meminta bantuan Inem.

Dari wastafel tempatku mencuci saat ini aku dapat melihat Suami dan anakku yang sedang berebut menonton tv. Suamiku lebih suka menonton acara berita ketimbang sinetron, sementara anakku sebaliknya, ia menyui sinetron.

“Sibuk ya Bu?” Deg… “Jangan gugup, bersikaplah seperti biasanya agar mereka tidak curiga.” Oh Tuhan, jangan lagi aku mohon.

Kurasakan sentuhan di pantatku dengan perlahan, jemari itu dengan nakalnya membelai pantatku, lalu mencubit kecil pantatku, membuat panpatku bergetar nikmat. Kugigit bibirku menahan birahi yang tiba-tiba melanda diriku.

Stopp… Please… Don’t tuch Me… Aahkk… please, help me…

Kurasakan jemari tengahnya menekan selangkanganku, membuatku terpaksa menutup mulutku agar tidak mengeluarkan suara erangan yang bisa di dengar mereka.

“Cukup, saya mohon!” Aku menoleh kebelakang kearah Ujang yang sedang menyeringai mesum kepadaku. Aahk… dia keterlaluan.

Tangan kirinya menyusup kepinggangku sementara tangan kanannya meremas pantat bulatku yang menggoda. “Sstt… di nikmatin aja ya Bu, jangan di lawan.” Gila… dia menyuruhku menikmati pelecehan ini.

“Jangan gila, di sini ada anak dan Suamiku.” Aku mendelik kesal.

Dia terkekeh mentertawakanku. “Lebih gila, lebih nikmat Bu.” Komentarnya enteng kepadaku. Apa dia menganggap aku sedang bercanda? Apa dia tidak mengerti kalau saat ini aku sungguh sangat ketakutan.

Kurasakan perlahan gaun tidurku diangkat keatas, di sangkutkan di pinggangku.

“Ternyata Umi Ema cuman di luarnya saja alim, dan di dalamnya sungguh sangat nakal!” Komentarnya membuatku tersinggung.

Oh Tuhan, aku baru sadar kalau malam ini aku sengaja mengenakan g-string yang baru saja kubeli beberapa hari yang lalu untuk menggoda Suamiku malam ini. Bukannya sebaik-baik wanita adalah seorang wanita yang mau tampil seksi di hadapan Suaminya. Karena itulah alasannya malam ini aku berpenampilan sedikit nakal.

Tapi siapa yang menyangkah, tampilan nakalku malah kupersembahkan untuk pria lain. Ohk… Maafkan aku Mas.

Aku tertunduk malu, tatkalah pembantuku dengan sengaja menarik g-striku keatas hingga talinya tenggelam diantara lipatan bibir vaginaku dan anusku. Parahnya lagi ia menggesek-gesekkan g-stringku, membuatku benar-benar tidak tahan.

Apa lagi ketika tali g-string itu menggesek clitoriskua, Ahkk… rasanya aku ingin segera di setubuhi olehnya.

“Memek Ibu sangat basah, sudah gak tahan ya.” Ledekan itu sangat menggangguku.

“Jangan di lanjutkan!” Aku memohon.

“Yakin?” Tanyanya.

Aku terdiam, entah kenapa mulutku terasa keluh. Ayolah Ema… hanya satu kalimat yang terdiri dari lima huruf, apa itu begitu sulit bagimu?

Satuku kakiku mundur kebelakang, dan di ikuti oleh kakiku yang lain, hingga aku tampak sedang menungging memamerkan keindahan pantat dan vaginaku di hadapan pembantuku.

Kamu sudah gila Ema, benar-benar sangat tidak waras… Lihat Suami ada di depanmu saat ini.

“Indah sekali Bu.” Dia memujiku sambil mencubit pantat montokku.

Perlahan kurasakan dia membuka lipatan pantatku, menyibak tali g-stringku kesamping, sehingga anus dan lobang vaginaku menjadi tontonan yang sangat menarik baginya.

“Oughjkk…” Aku mendesah lirih.

Kurasakan ujung lidahnya menyapu vaginaku, lalu naik keanusku, dan dari anusku turun kembali menuju vaginaku. Di sana lidahnya menggelitik lobang vaginaku, menghisap clitorisku, membuat tubuhku menggelinjang nikmat.

Sluuppss… Sluuuppss… Sluuppp… Slupps…. Sluppss…. Sluuppss….

Lidahnya kembali naik menuju anus, menjilati anusku, diringi dengan tusukan lembut di anusku.

“Aaaahkk… Jangaaaan…!” Erangku.

Cengkramanku di wastafel semakin erat, tatkala kurasakan kedua jarinya menyelusup masuk kedalam rongga vaginaku. “Aaaayyy…” Aku memekik dalam diam.

Ploppss… Plooppsd… Sluppss… Sluppss… Plooppss… Sluupps…. Sluups….

Kocokan yang di kombinasikan dengan jilatan di anusku, mengantarkanku terbang semakin tinggi, aku sudah tidak sanggup lagi menahan shawat syetan yang bersemayam di diriku, yang sedari tadi terus menggodaku.

Hoosstt…. Hoossstt…. Hoosstt…
Nafasku mulai memburu, kurasakan nikmat di seluruh tubuhkum

Sedikit lagi… Ya… hanya butuh waktu sedikit lagi sebelum aku benar-benar meledak. Orgasme yang selalu kunantikan sebentar lagi akan kudapatkan. “Aahkk….” Aku mengangkat wajahku.

Dan di saat bersamaan, kulihat Suamiku beranjak dari sofa dan ia berjalan kearahku.

Kearahku? Oh tidak…

Please… jangan kesini Mas aku mohon, Aahkk… Aahkk… Jangaaaan Mas… kembalilah, Oohkk… Aku mohooon….

Dan dia semakin mendekatiku, semakin dekat dan terus semakin dekat, hanya tinggal beberapa langkah lagi ia tiba di hadapanku, melihatku, Istrinya di cumbu oleh pembantunya… Aahkk…. Aku keluaaaar….

Crrrreerrss…. Creeeettss…. Crreettss… Crreeettss… Seeeeeeerrrrrr…. Seeeeeeeerrrrrr…..
###

Elvina

Aku berlari kecil menuju kamarku, lalu kuhempaskan tubuhku diatas tempat tidurku.

“Mas kapan kamu pulang? Adek udah gak tahan lagi Mas….!” Bisikku lirih, menatap kosong langit-langit kamarku.

Terlintas kembali bayangan Mertuaku yang sedang onani dengan celana dalamku. Kulihat kembali celana dalam merahku yang tampak sangat lengket di kulit tanganku. Sperma Mertuaku terlihat begitu jelas, sanking banyaknya.

Aku sadar betul kalau Mertuaku bukanlah Bapak yang baik untuk kami anaknya, tapi kalau sampai terobsesi terhadap menantunya sendiri, itu sungguh di luar dugaanku.

Aku sungguh tidak menyangkah kalau diriku bisa menjadi obyek onaninya.

Kucoba melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Mertuaku. Kudekatkan celana dalam itu kehidungku, lalu kuhiruf dalam-dalam aroma sperma Mertuaku yang menyengat, menusuk hidungku. “Aaahkk…” Apakah aku terangsang? Ehhmm… Mas aku kangen kamu.

Tangan kananku reflek membelai payudarahku sendiri, meremasnya dengan lembut sambil membayangkan kehadiran Suamiku.

Tidak… Aku bohong! Bukan Suamiku tapi Bapaknya, ya… bayangan Mertuaku yang sedang mengocok penisnya yang besar di depan mataku dengan eksprenya penuh gairah. Oohh… Enaak sekali Pak…

Kubuka satu persatu kancing piyamaku hingga kedua payudaraku menyembul keluar. Sambil menghirup celana dalamku bekas tumpahan sperma Mertuaku, aku megeplotasi payudarahku dengan remasan dan pilinan.

“Ouughkk Pak….!” Tubuhku mengejang.

Kujatuhkan celana dalam itu diatas wajahku, sementara tangan kananku kini ikut meremas payudarahku, memilin puttingku yang terasa semakin gatal.

Kontol itu… Aaahkk… Oohhkk… dia besaaar dan aku menginginkannya.

“Paak… Aahkk… Pak…!” Aku merengek nikmat.

Tangan kananku kini turun menuju selangkanganku, menyelusup masuk kedalam celana tidurku, lalu kubelai bibir vaginaku dari luar celana dalamku yang ternyata sudah sangat basah, menandakan kalau aku begitu terangsang.

Tubuhku menggeliat seiring dengan gosokan jemariku di clitorisku.

“Oouhhkk… Pakkk… Kotol Bapak besaaar… aku mau kontol Bapak… Aahkk… Aahkk…” Bayangan Mertuaku terasa semakin tajam, menghantuiku hingga aku hanya bisa mengerang.

Tak tahan, aku langsung melepas celanaku dan kemudian kembali kubelai bibir vaginaku, jemariku dengan mudahnya mencari cela lobang vaginaku yang licin. Dengan perlahan, kedua jariku menusuk masuk kedalam vaginaku.

Tubuhku tersentak tatkala kedua jariku bekerjasama mengocok vaginaku, sementara tangan kiriku kembali memegangi celana dalamku, menghirup dan menikmati aroma sperma Mertuaku yang sangat nikmat.

Kucoba memberanikan diri menjilati sperma Mertuaku yang ada di celana dalamku, dan ternyata rasanya asin dan gurih, aku menyukainya…

Semakin lama tubuhku semakin menggelinjang tak tertahankan, dan sedetik kemudian.

“Paaaak… Aku dapaaaaat!” Aku memekik diiringi dengan squirt yang kuraih.

“Hossstt… Hosstt… Hosstt…” Nafasku memburu.

Perlahan kubuka kedua bola mataku yang indah, lalu kudapatkan sesosok pria yang berdiri di ambang pintu kamarku sembari tersenyum.

Ooo ternyata dia Mertuaku….

Deg… Oh Tuhaan….

Aku pasti salah lihatkan? Tapi… Ah… Dia memang ada, dan sangat nyata…

“Udah selesai Nduk?” Dia menggodaku. “Tidurnya.” Sambungnya lagi.

Aku terdiam membisu, sungguh aku sangat malu sekaligus takut… Aku takut dia masuk dan memperkosaku seperti cerita dewasa yang perna kubaca di salah satu forum dewasa. Tapi apa dia benar-benar ingin memperkosaku.

“Loh kok malah bengong? Bapak lapar ni nduk, dari tadi Bapak nungguin kamu, ternyata kamu malah mau tidur, sampe ngigaunya keras banget.” Jelasnya, membuat wajahku memerah menahan rasa malu.

“Iya maaf Pak! Aku ketiduran…” Oh ya… Tidur yang sangat enak sepertinya.

Dia menyeringai tersenyum. “Ya udah yuk, temenin Bapak makan dulu, kamu juga pasti belum makankan?” Ajaknya lagi, seperti sedang membujuk anak gadisnya.

Aku segera turun dari atas tempat tidurku dan buru-buru mengenakan kembali celanaku. Aku menghampirnya dengan wajah tertunduk, karena rasa malu itu sangat menyiksa diriku, apa lagi melihat respon Mertuaku yang seakan tidak terjadi apapun barusan.

Aku berjalan mendahuluinya sementara ia melangkah di belakangku.

Sesampainya di meja makan, kulihat piringku sudah terisi nasi berikut dengan lauk pauknya. Memang harus kuakui Mertuaku ini sangat baik dan perhatian, tapi sayang… kelakuannya yang suka menyewa wanita penghibur dan berjudi terkadang membuatku kesal.

“Itu celana dalamnya gak mau kamu letakin dulu Nduk?” Tegur Mertuaku. “Nanti susah megang sendoknya loh…” Lanjutnya membuatku nyaris mengalami gagal jantung.

Astagaa… bagaimana mungkin sedari tadi aku selalu menggenggam, membawa celana dalam bekas sperma Mertuaku ini.
###

Anayah Sipta Renata

Kugelengkan kepalaku dengan perlahan melihat kelakuan sahabatku Rini. Gadis itu melambaikan tangannya kepada seorang pria yang sedang melaju pelan dengan mobilnya.

Kulihat jam di hpku sudah menunjukan pukul dua dini hari. Jam segini teman prianya baru pulang.

Sebenarnya aku bukan tipe wanita yang suka ikut campur, tapi untuk urusan maksiat aku tidak bisa tinggal diam, walaupun aku tidak bisa mencegahnya dengan kedua tanganku, tapi setidaknya aku bisa menegurnya dan memberinya nasehat yang bijak untuknya.

“Assalamualaikum Rin!”

“Loh belom tidur Bu Ustadza?” Dia memang paling suka memanggilku dengan kalimat Bu Ustadza, mungkin karena aku terlalu sering menceramahi dirinya sehingga ia menjulukiku sebagai Ustadza.

Aku mendesah lirih. “Kebiasaan… Jawab salam dulu Rini yang cantik, baru nanya…” Jelasku, sembari tersenyum kecut.

“Hehehe… Walaikumsalam!” Huh… Aku menggeleng pelan.

“Aku baru bangun, mau ibadah malam! Siapa dia Rin? Ngapain dia kesini? Kok dia pulangnya malam banget Rin?” Cercaku dengan berbagai pertanyaan.

“Iihkk Ana nanyanya satu-satu dong.”

“Oke… Itu siapa?” Kataku mulai mengintrogasinya.

“Dia itu tamu sekaligus mucikariku yang baru. Namanya Anton, orangnya tajir habis.” Jawabnya enteng, sambil berlalu masuk kedalam kamarnya, aku mengikuti dirinya.

Lagi-lagi aku di suguhi pemandangan yang menjijikan, kulihat beberapa jenis dildo tergeletak di dalam kamarnya, dan bau yang menyengat tercium di hidungku.

Aku duduk dilantai kamarnya, sembari memperhatikan kamarnya yang berantakan.

“Kalian tadi habis ngapain?”

Dia nyengir kuda. “Masak kamu tidak tau si Na!” Jawabnya, dengan mengulum senyumnya. Duh… anak ini benar-benar keterlaluan.

Tentu saja aku tau, karena kamarku berdampingan dengan kamarnya.

“Mau sampai kapan kamu kayak gini Rin?”

“Aku tidak tau Ana, tapi… kamu taukan, aku tidak punya uang.” Lagi-lagi alasannya finansial, kenapa uang selalu menjadi alasan untuk berbuat dosa.

“Dengerin aku, Tuhan tidak akan membiarkan hambanya berada dalam kesulitan, asalkan hambanya mau berusaha, pasti akan ia beri jalan kemudahan untuk hambanya. Kamu bisa mencari uang dengan cara yang lebih halal.” Sebisa mungkin aku mencoba menasehatinya.

“Kita berbeda Ana!”

“Apa bedanya Rin, kita sama-sama anak yatim piatu? Hanya saja aku mencari uang dengan cara yang halal, tapi kamu malah memilih untuk melacurkan diri.” Kataku dengan nada tinggi, sungguh aku sangat kesal dengannya.

Seandainya saja kamu tau Rin, sudah dari dulu aku ingin pergi dari rumah ini, mencari kontrakan baru yang lebih Agamis.

Tapi amanah Ibumu sebelum meninggal, membuatku terpaksa harus selalu berada di sampingmu, menjagamu agar kembali kejalan yang benar, tapi kamu selalu mengecewakanku.

“Sudalah Na, aku tidak mau berdebat… Tapi aku berharap kamu masih mau menganggapku sebagai saudaramu.” Mohonnya.

“Tentu… selamanya akan tetap begitu.”

“Terimakasi Na… Maaf aku selalu membuatmu kecewa, tapi percayalah saat ini aku belum bisa berhenti….” Dia memelukku dengan sangat erat, aku tau ini sangat berat baginya.

“Aku akan menunggumu!”

“Kamu sahabat yang baik, ah tidak… kamu saudara yang baik, aku begitu beruntung memiliki sahabat seperti dirimu.” Dia tersenyum, dan senyuman itu selalu membuat hatiku luluh.

Suatu hari nanti, aku berharap kamu mau berubah menjadi gadis yang polos seperti dulu.
##

Ema Salima Salsabila

Crreeetts…. Crreeetts … Seeeeeeerr…. Eehmp…. Crrreetsss…. Seeeeerrr…..

Kugigit bibirku menahan diriku agar tidak mendesah sehingga Suamiku tidak sampai curiga. Aaahk… Sungguh orgasmeku kali ini jauh lebih nikmat dari sebelumnya sekaligus sangat menyiksa diriku.

Rasa nikmat yang kudapatkan, membuatku nyaris lupa kalau Suamiku kini berada dekat denganku.

Tinggal dua langkah lagi, maka semuanya berakhir, Suamiku akan dapat melihat Ujang yang sedang berada di belakangku. Dan perselingkuhankupun terbongkar, sebentar lagi aku akan resmi menjadi seorang Janda.

Deg… Deg… Deg… Deg… Deg… Deg…

“Abii…”

Langkah Suamiku berhenti, lalu ia menoleh kearah putriku. “Iya sayang, ada apa?” Sahut Suamiku memandang putrinya.

Dan pada saat bersamaan gamisku di tarik turun, lalu dengan gerakan persekian detik sebelum Suamiku kembali menoleh kearahku, Ujang menyembunyikan tubuhnya di bawah kolong wastafel sehingga Suamiku tidak dapat melihatnya.

Aku mendesah pelan, sedikit beban tanpa berkurang dari pundakku.

“Masih lama Umi nyucinya?” Tanya Suamiku.

Aku berdehem pelan, perasaan tegang membuatku merasa gugup. “Iya Bi… kenapa?” Tanyaku gugup, sungguh aku sangat ketakutan.

“Abi kangeen!” Aahkk… Ternyata Suamiku minta di layani malam ini.

“Iya Abi, nanti kalau nyucinya selesai Umi… Aahkk… Eehmm… Akan nyusul Abi keatas.” Siaaal… Ujang udah benar-benar gila, kurasakan jemari Ujang membelai betisku.

“Kamu kenapa Umi? Ada yang sakit?” Tanya Suamiku panik. “Kok wajah Umi pucat?” Sambungnya sambil membelai pipiku.

Ujang pleasee… jangan naik lagi, Aahkk… Jemarinya semakin tinggi naik atas pahaku, hingga akhirnya menyentuh kemaluanku. Dia menggesekkan jarinya kebibir vaginaku, membuat birahiku kembali naik.

Aaah… Tidak, ini bukan saat yang tepat untukku terangsang seperti ini. Fokuuus…. Fokuuss… Kamu pasti bisa Emaa…

“Ini mendadak perutku mules Bi!” Kataku mengringis sambil menurunkan tanganku memegang perutku, lalu turun menuju tangan Ujang yang sedang memanjakan vaginaku.

“Ya udah, Abi tunggu di kamar ya?”

“Iya Bi, Umi nanti menyusul.” Jawabku, sembari menarik nafas lega.

Kemudian Suamiku melangkah pergi menjauh dariku, aku baru bisa bergerak ketika Suamiku benar-benar menghilang dari pandanganku. Buru-buru aku menepis tangan kurang ajar Ujang dari vaginaku, dia sudah sangat keterlaluan.

Kalau tadi sampai ketahuan, bisa-bisa riwayatku tamat sampai di sini.

“Gila kamu Jang!” Kataku emosi, tapi tetap menjaga suaraku agar putri semata wayangku yang sedang menonton tv tidak mendengar suaraku.

“Tapi Ibu Ema sukakan?”

“Saya mohon, jangan ganggu saya lagi…! Dan tolong berhenti sampai di sini saja.” Melasku tapi dengan nada tegas.

Perbuatannya barusan sungguh sangat beresiko, bagaimana kalau tadi Suamiku melihat? Aku tidak ingin menjadi janda, apa lagi janda karena di ceraikan Suami yang memergoki Istrinya selingkuh, aku tidak siap untuk hal itu.

Ujang menarik tanganku, memaksaku merunduk seperti dirinya.

Kemudian dia membuka celananya, mengeluarkan senjata pamungkasnya yang gemuk dan panjang, membuat nafasku memburuh, kejadian tadi pagi kembali menguasaiku.

“Ayo Bu, biar cepat selesai.”

“Jangan gila Jang, masih ada anakku di sana, gimana kalau dia melihat kita?” Kataku panik, tapi dia malah menarik tanganku.

“Gampang Bu, tinggal kita ajak!”

“Iblis kamu Jang…” Kesalku, sembari merangkak kepangkuannya, kusibak kesamping celana dalamku lalu keraih penisnya, dan kugesekan dengan bibir vaginaku.

Aaahkk… Rasanya nikmat sekali, apa lagi ketika kepala penisnya menggesek clitorisku.

“Hahaha… Ayo masukan sekarang Bu!”

Kutatap bola matanya, lalu dengan perlahan kucoba menduduki penisnya. “Jleepps…” Oohk… Kepalaku mendongak keatas, menatap langit-langit dapur rumahku.

Dalam sekejap untuk kedua kalinya hari ini aku membiarkan penis pria lain bersarang kedalam vaginaku yang suci, yang seharusnya kupersembahkan untuk Suamiku tercinta, tapi kali ini tanpa ada paksaan berarti aku malah menuruti kemauan pria lain.

Dosakah aku? Aahkk… Ini dosa besar, tapi dosa yang paling nikmat yang perna kubuat.

Tanpa di minta aku mulai menggoyang pinggulku naik turun diatas penisnya yang begitu besar, jauh lebih besar dari milik Suamiku, dan tentunya lebih keras dan berotot.

Jujur saja, pelecehan yang ia lakukan barusan tepat dihadapan Suamiku membuatku langsung memutuskan untuk pasrah, menerima kalau nantinya ia ingin menyetubuhiku lagi, dan ternyata benar dia kembali memperkosaku.

Ujang meletakan tangannya di bagian belakang kepalakku, laku kumiringkan wajahku, menyambut bibir tebal Ujang.

Kami berpagutan mesrah, lidah kami saling membelit, dan kami saling berbagi air ludah. Entalah… Apa ini masih bisa di sebut pemerkosaan, tapi yang pasti aku sangat menikmati dirinya yang sedang memperkosa diriku.

Plookkss…. Ploookkss… Plookss…. Plookkss…. Plookkss….. Ploookkss….

Pinggulku bergerak cepat, menghentak nikmat, sementara erangan-erangan kecil keluar dari bibirku, dan sedetik kemudiaaan… Aahkkk… Aku mencapai orgasmeku kembali dengan rasa berjuta kenikmatan yang ia berikan.

Masih dalam keadaan penisnya yang berada di dalam vaginaku, dia… menuntunku terlentang, dengan posisi ia menindih tubuhku.

Kemudian giliran ia yang bergerak maju mundur menyodok memekku, sembari tersenyum penuh kemenangan karena berhasil menaklukanku. Sementara aku harus berjuang mati-matian agar tidak mengeluarkan suara.

“Memek Bu Ema sempit bangeet, rasanya enaaak Bu, ngejepit gitu…” Dia menyingkap lebi tinggi gaun tidurku hingga sebatas leherku, lalu dengan satu tarikan kebawah, cup braku melorot dan memperlihatkan sepasang gunung kembarku yang indah dan masih sangat kencang.

Sembari menggenjot memekku, dia meremas payudarahku dengan memainkan puttingku. Mau tidak mau, aku semakin terangsang di buatnya.

“Ujaaang… Aahkk… pelan-pelaaan!” Pintaku.

“Aduh Bu, Maaf gak bisa pelan, soalnya memek Ibu kayak perawan, enaaak bangeeet….”

Perawan…? Oohh Ujang, kamu pinter sekali memujiku, padahal usiaku saat ini sudah tidak muda lagi… Bahkan aku sudah melahirkan, seharusnya memekku sudah kendor, tapi katamu aku masih perawan? Aahkkk… Enaaak….

Dia semakin mempercepat sodokannya, sementara kedua pahaku ia buka semakin lebar.

Saat kedua bola mata kami bertemu, kurasakan getaran halus merayap di dadaku, apa lagi ketika ia tersenyum puas melihatku yang tersentak merasakan benda pusakanya yang mengaduk-aduk liang peranakanku.

“Aku mau keluaaar Jang…”

“Keluaarin Bu, nikmatin kontol saya di dalam memek Ibu.” Bisiknya, yang seakan diriku ini memang haus akan sebuah kenikmatan.

Maafkan aku Suamiku, tapi aku berjanji ini yang terakhir kalinya, semoga kamu mau memaafkanku sayang…. “Aaaaarrhkk…” Lidahku terjulur seiring dengan cairan cintaku yang meledak-ledak.

Plooppss….

Dia menarik kontolnya dari dalam memekku, membuat nafasku kembali memburu dan aku merasa seperti ada yang kosong di bawah sana.

“Kulumin kontol saya dulu ya Bu, baru nanti kita lanjut lagi…”

Aku menganguk pelan, lalu kuikuti tarikan tangannya, aku bersujud di depan kontolnya yang mengacung di depanku. Lama aku mengamati kontol Ujang yang memang besar.

Kugenggam kontolnya dengan telapak tanganku, Ouw… telapak tanganku tak mampu menggenggam kontolnya.

Dengan perlahan kukocok kontolnya naik turun, kuperhatikan cincin emasku yang melingkar di jari manisku, membuatku kembali teringat bagaimana dulu aku mengikat janji suci kepada Suamiku. Tapi malam ini, dengan di saksikan mas kawinku, aku mengingkari janji suciku.

Maafkan aku Mas, aku mencintaimu selamanya…

Kutundukan wajahku, kujilati kepala kontol Ujang, yang tak lain hanyalah seorang pembantuku. Uuhkk… rasanya nikmat banget, lidahku bergetar menjilati kontolnya yang besar.

Tidak hanya kepala kontolnya, batangnyapun tak luput dari jilatanku.

Sementara jemariku meremas lembut kantung telurnya, dan bibirku membuka, menyambut kontolnya kedalam mulutku. Kepalaku bergerak maju mundur mengocok kontolnya yang sekeras batu itu sambil menatap matanya.

“Aaoohkk… Enak Bu, Aahkk… kuluman Ibu enak, Aahkk… hisapannya mantab bangeet Bu…” Ujar Ujang, matanya merem melek.

Kurasakan belaian telapak tangannya diatas kepalaku yang masi tertutup kerudung.

Aku semakin bersemangat mengulum kontolnya, menghisap dan mengitari kepala kontolnya dengan lidahku. Entah kenapa ada perasaan senang melihat ia keenakan.

———–

Rasanya aku mau gila, bagaimana mungkin aku menikmati pemerkosaan yang kualami saat ini, seharusnya aku marah, mengutuk setiap sentuhan darinya, bukan malah menginginkan dirinya menyentuh dan menikmati diriku.

Dia menahan kepalaku, lalu dia memintaku naik kembali kepangkuannya.

Tanpa melakukan penetrasi, dia melumat bibirku, memelukku dengan sangat erat. Kuangkat sedikit pantatku ketika ia membelai bongkahan pantatku yang sekal. Lalu kurasakan jemari tengahnya membelai anusku.

“Ouuhhkk… Jang!” Kurasakan jemari tengahnya tenggelam dianusku.

Sembari membalas pagutannya, kurasakan anusku di korek-korek oleh jemari tengahnya. Aku berani bersumpah demi apapun, kalau saat ini aku sangat menikmati penjelajahan jemari tengahnya di dalam liang anusku yang kemarin telah di ambil perawannya oleh mereka.

Aku semakin menggila, kedekap kepala Ujang, sambii menghisap lidahnya dengan rakus. Aku sudah tidak perduli terhadap setatusku sebagai seorang Istri, dan Ujang sebagai pembantuku.

Yang aku mau hanya dirinya yang menyetubuhiku seperti kemarin, membuatku tak berkutik menikmati setiap sodokan kontolnya yang besar di dalam vaginaku ini. Aahkk… Aku menginginkanmu Ujang… Aaahkk….

Sluuooppsd…. Sluuuppss… Sluuppss….

Dia menuntunku berdiri, satu kakiku diangkat, dan kemudian “bleess…” Kontolnya kembali melesat masuk kedalam memekku.

Kukalungkan kedua tanganku di lehernya Ujang, untuk menjaga keseimbangan tubuhku agar tidak terjatuh ketika kontolnya mengaduk-aduk memekku dengan cepat.

“Jaang… Kayak tadi aja… Aahkk….”

“Kenapa Bu?” Tanyanya, kedua tangannya turun meremas pantatku.

“Di sana masi ada anak saya Jang, Aahkk.. Oohhk… Pelan-pelan Jang…. Aahkkk….” Aku merintih semakin keras, jujur aku takut anakku tau kalau saat ini aku sedang di setubuhi oleh Ujang.

Bukannya melambat Ujang malah semakin menggila, ia menyodok memekku tanpa ampun, membuatku kesulitan untuk tidak mengerang, karena rasanya terlalu nikmat.

Plooookkss…. Plookkss…. Plookksd… Plookkss….

“Memek Ibu enak, Aahkk… saya suka memek Ibu, Aahkk… Aahkk…” Bisik Ujang, dia menghentak-hentak selangkanganku.

“Udaah… Aahkk… Jang! Saya gak kuat….”

“Tenang aja Bu, nikmatin aja kontol saya! Anak Ibu aman pokoknya dia gak akan ganggu kita….” Uhkk… Ujang, dia tau dari mana kalau anakku tidak akan mendengar teriakanku.

Tiba-tiba mataku diikat oleh seutas kain, aku sempat ingin melepasnya tapi Ujang menahan tanganku yang ingin menarik lepas penutup mataku, karena aku terganggu dengan adanya penutup mataku.

Dia memutar tubuhku, menghadap kearah Putriku yang tadi sedang menonton tv.

“Kok mata saya di tutup Jang?” Tanyaku heran.

“Sengaja Bu, dengan begini Ibu gak perlu khawatir tentang anak Ibu, dan bisa fokus menikmati kontol sayakan Bu…” Jelas Ujang, dia meraih payudaraku dari luar gaun tidurku, dan meremas-remas dadaku.

“Tapi Jang?”

“Kan saya bisa lihat Bu… percaya sama saya Bu, pati gak akan ada gangguan.” Ujarnya menenangkan hatiku.

Duh kenapa dengan diriku ini, semakin lama aku semakin suka dengan caranya menikmatiku. Membuatku serba salah, antara menerima perlakuannya atau malah mengutuknya.

Perlahan kurasakan belaian kontolnya di belahan memekku, lalu naik keanusku.

Kujatuhkan dadaku diatas tempat biasa aku menyiapkan bumbu masakan, di samping wastafel. Kemudian kedua tanganku terjulur kebelakang, lalu dengan perlahan kubuka lebar kedua pipi pantatku memperlihatkan anusku.

“Mau dimasukan kesini Bu?” Tanya Ujang menempelkan ujung kepala penisnya di lobang anusku yang merekah.

Aku mengangguk malu, jujur saja aku tidak bisa melupakan nikmatnya ketika diriku di sandwich oleh para pembantuku tadi pagi, dan aku ingin kembali merasakannya, menikmati ketika anusku di sodok kasar oleh kontol Ujang yang besar.

“Ngomong dong Bu, jangan ngagguk doang, bilang kalau Ibu mau anusnya di jebol…”

Aku mendengus. “Iya… Iyaaa… Jang, jebol anusku Jang, pake kontol kamu… Aahkk….” Sumpah, jantungku rasanya mau copot saat mengatakan hal tersebut kepada Ujang.

Lalu dengan perlahan kurasakan kepala jamur Ujang menerobos masuk, semakin lama semakin dalam dan Jleeeeb…. Aaaaaahkk…. Anusku berhasil di tembus oleh kontol Ujang, dan rasanya sungguh sangat nikmat.
(Kok ngegantung? Sngaja gan, bukan untuk bkin warga smprot kentang, tpi ini bagian dri crta)
###

Saat aku masuk kedalam kamar, kulihat lampu kamar kami sudah meredup dan terlihat Suamiku sudah tertidur lelap.

Maafkan aku ya Mas… Aku sudah membuatmu menunggu begitu lama, sampai kamu ketiduran seperti ini… Seharusnya aku melayanimu, bukan malah bermain gila di belakangmu, sumpah Mas aku sungguh menyesal.

Aku bukanlah Istri yang baik, tega menyakitimu yang begitu setia kepadaku. Tapi Mas harus percaya kalau aku sangat mencintaimu.

Aku berjanji Mas, kejadian malam ini tidak akan terulang lagi, ini yang terakhir kalinya.

Aku merebahkan tubuhku di samping Suamiku Mas Tio, kupeluk erat tubuhnya yang kokoh, yang selama ini bekerja keras demi memenuhi kebutuhanku dan anakku. Terimakasi Mas sudah menjadi kepala keluarga yang baik untuk kami.
###

Delapan

Asyfa Salsabila

Apa yang kulihat saat ini tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Sanking shoknya, aku hanya bisa diam membeku.

Aku yang tadi lagi seru-serunya menonton televisi, tiba-tiba aku mendengar suara yang aneh dari balik dapur rumahku. Awalnya aku tak begitu menghiraukannya, karena suaranya yang terdengar sama-samar. Tapi entah kenapa pada akhirnya suara tersebut mengundangku untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Oh Tuhaaan…

Kulihat Umi yang sedang berdiri membelakangiku sedang berpelukan sambil berpagutan dengan seorang yang juga kukenal sangat baik.

Dia adalah Kang Ujang! Ya… aku memanggilnya Akang karena ia berasal dari bandung, orangnya baik dan enak diajak mengobrol, tapi siapa yang menduka ternyata ia menjalin efair dengan Ibu kandungku.

Tentu saja aku marah, aku hendak melabrak mereka, sungguh sangat menjijikan melihat apa yang mereka lakukan saat ini.

“Ssstttt….” Kang Ujang meletakan jari telunjuknya di bibirnya.

Langkahku terhenti, entah kenapa mendadak aku jadi ragu untuk melabrak mereka berdua, walaupun emosiku sudah sangan memuncak dan bersiap untuk kuledakan.

“Jaang… Kayak tadi aja… Aahkk….” Kudengar suara Ibuku yang mendesah

“Kenapa Bu?”

“Di sana masi ada anak saya Jang, Aahkk.. Oohhk… Pelan-pelan Jang…. Aahkkk….” Tolak Umi, sembari mengerang-erang.

Sungguh aku tidak menyangkah kalau Umi bisa bermain gila di belakang Abi.

Apa salah Abi Umi? Kurang baik apa Abi selama ini kepada kita, apa yang kita butuhkan selalu ia penuhi, bahkan ia sangat mencintai kita lebih dari apapun, tapi kenapa Umi membalasnya dengan perselingkuhan.

Plooookkss…. Plookkss…. Plookksd… Plookkss…. Plookkss….

“Memek Ibu enak, Aahkk… saya suka memek Ibu, Aahkk… Aahkk…”

Kedua tangan Kang Ujang mencengkram pantat Umi, sambil menggerakan pinggulnya turun naik menyodok vagina Umi. Kulihat banyak cairan vagina Umi yang meleleh keluar, turun hingga kemata kakinya.

“Udaah… Aahkk… Jang! Saya gak kuat….” Rengek Umi.

“Tenang aja Bu, nikmatin aja kontol saya! Anak Ibu aman pokoknya dia gak akan ganggu kita….” Kang Ujang tersenyum kearahku, lalu dia menunjukan tangannya yang tergenggam dengan jari jempol terselip diantara telunjuk dan jari tengahnya. (Kode ngentot)

Kemudian Kang Ujang mengambil kain yang tergantung, lalu mengikat mata Umi.

Kang Ujang memutar tubuh Umi menghadap kearahku, sehingga aku dapat melihat wajah Umi yang merah padam. Oh Tuhan, raut wajah Umi mengisyaratkan kalau ia sangat menikmati perselingkuhannya.

“Kok mata saya di tutup Jang?” Tanya Umi keheranan.

Tapi aku bersyukur Umi tidak membuka penutup matanya, kalau tidak, ia akan tau kalau aku anaknya saat ini sedang menonton perselingkuhannya dengan pria lain.

Dan yang lebih menjijikan lagi, pria itu tak lain adalah pembantu di rumah kami, sungguh tidak selevel dengan Umi.

“Sengaja Bu, dengan begini Ibu gak perlu khawatir tentang anak Ibu, dan bisa fokus menikmati kontol sayakan Bu…” Kang Ujang menyeringai, lalu kulihat tangan kurang ajarnya meremas payudarah Umi.

Rasanya aku ingin memukul wajah seringai Kang Ujang, tapi tatapannya entah kenapa membuat nyaliku menjadi ciut.

“Tapi Jang?”

“Kan saya bisa lihat Bu… percaya sama saya Bu, pasti gak akan ada gangguan.” Ujarnya menenangkan Umi yang panik.

Kemudian Kang Ujang memberi isyarat kepadaku agar mendekat. Dengan langkah yang ragu aku berjalan menuju dapur.

Kututup mulutku saat kembali melihat pemandangan yang menakjubkan. Di hadapanku saat ini kulihat benda besar yang nan gemuk mengacung tepat di depan pantat semok milik Umi.

Ya Tuhaaan… Ampuni dosaku yang membiarkan Umi berzina.

Kulihat tangan Umi membuka kedua belah pantatnya, sehingga aku dapat melihat lobang anus Umi yang kemerahan. Sebenarnya apa yang di inginkan Umi? Kenapa Umi bisa berbuat sejauh ini.

“Mau dimasukan kesini Bu?” Kulihat kepala penis Kang Ujang di tempelkan kelobang anus Umi yang merekah.

Anal? Astaga Umi…. apa yang ada di pikiran Umi? Sadar Umi… Aku mohooon…

Kepala Umi mengangguk, menandakan kalau ia ingin Kang Ujang menganalnya.

“Ngomong dong Bu, jangan ngagguk doang, bilang kalau Ibu mau anusnya di jebol…” Kembali Kang Ujang menatapku.

Sepertinya Kang Ujang sengaja ingin memberi tahukanku kalau Umilah yang menginginkan dirinya, bukan dia yang menginginkan Umi, membuatku rasanya jijik melihat Umi yang terlihat sangat nakal malam ini.

Tapi kenapa Umi bisa seperti ini? Di mana Umi yang kukenal dulu? Orang yang selalu menjadi panutanku, yang mengajarkanku banyak kebaikan, tapi kini malah mempertontonkan perbuatan yang tidak senono di hadapanku.

Umi membuang nafasnya “Iya… Iyaaa… Jang, jebol anusku Jang, pake kontol kamu… Aahkkk….” Sumpah, jantungku rasanya mau copot saat mendentar Umi meminta Kang Ujang untuk menganalnya.

Lalu dengan perlahan kulihat kepala jamur Kang Ujang menerobos masuk, semakin lama semakin dalam dan Jleeeeb…. “Aaaaaahkk” Umi memekik, ketika Anusnya berhasil di tembus oleh kontol Ujang, dan rasanya tubuhku melemas melihatnya.

Dengan gerakan teratur kuperhatikan Kang Ujang memompa anus Umi.

Hancur sudah kepercayaanku terhadap Umi yang baik. Seorang Ibu yang selama ini mengayomiku, menyayangiku dengan caranya yang luar biasa.

Aku terduduk lemas, sambil memperhatikan mereka berdua yang sedang berzina.

Dari belakang sambil melihat kearahku Kang Ujang menyodok anus Umi, sesekali ia menampar pantat Umi yang semok hingga meninggalkan bekas merah.

“Ooooo… Jaaang! Aaahkk… Aahkk….” Rintih Umi, dia terlihat seperti pelacur saat ini.

Tak sadar aku meneteskan air mataku, aku sedih, hatiku hancur tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali menyaksikan Ujang yang sedang menganal Umi. Mempermalukan Umi di hadapanku.

Sebagai seorang anak yang sangat mencintai Ibunya, aku hanya pasrah melihat Umi yang sedang melayani Kang Ujang.

“Anus Ibu enak bangeet, kontol saya seperti di pijit-pijit… Aahkk… Enaknyaaa….” Erang Ujang, tak melapas pandangannya kearahku. Membuatku malu dan membuang muka sejenak, menghilangkan rasa jengah yang kurasakan saat ini.

“Aaahkk… Jang… Ooohk… Lebih cepaat Jang, sayaaa mau nyampeee….!”

Nyampee…? Apa maksudnya? Aaahk… aku tidak mengerti, dan tidak mau mengerti aku berharap pemandangan ini segera berakhir, karena ini sangat menyakitkanku.

Tapi… tapi… kenapa aku di sini? Cuman mau melihat Umi selingkuh? Atau pengen melihat Umi bersetubuh? Jangan-jangan Aku suka melihat Umi dan Kang Ujang bersetubuh? Ah… tidak… Aku tidak suka, aku benci….

Aku benci saat mendengar suara Umi yang mengerang nikmat, aku benci saat melihat Umi yang malah ikut merangsang dirinya sendiri dengan cara menggesek-gesekan vaginanya dengan jemarinya.

“Maang… Aku keluaaar!”

“Aku juga Bu…. Aahkk….” Crreettz…. Creerrs…. Tubuh mereka berdua, kulihat terguncang-guncang, lalu tampak cairan putih keluar dari sela-sela anus Umi.

Ujang mencabut penisnya lalu menghadap kearahku, memametkan senjatanya yang besar, membuat nafasku memburu.

“Ikat matanya boleh aku buka?” Tanya Umi.

Mang Ujang memberi isyarat kepadaku, agar aku segera pergi.

Tanpa di minta untuk kedua kalinya, aku kembali ketempatku di depan tv. Aku pura-pura menikmati acara televisi yang sedang menayangkan film india.

“Sayang…!” Deg… Umi memanggilku.

Aku menoleh kebelakang, melihat tampilan Umi yang tampak urakan. “Ya Umi…” Jawabku senormal mungkin.

“Tidurnya jangan malam-malam ya nak.”

“Iya Umi, sebentar lagi Adek tidur.” Kataku, sembari memaksa bibirku tersenyum.

Kemudian Umi berlalu meninggalkanku, menuju kamarnya. Sementara aku, entalah, dadaku masih bergemuru, aku masih sangat marah dengan kelakuan Umi yang tega mengkhianati kami.

Aku sendiri bingung, tidak tau harus bersikap seperti apa setelah melihat kejadian barusan.

Biarlah besok menjadi besok, malam ini aku ingin memejamkan mataku sejenak, melupakan apa yang terjadi malam ini.

Aku melangkah gontai menuju kamarku, rasanya semangatku hilang. Kulihat Kang Ujang sedang tersenyum melihatku melangkah menuju kamarku.

Kemudian ia menghampiriku, lalu mendorongku hingga menabrak dinding.

“Akang mau apa?” Kataku dengan sisa-sisa kemarahanku kepadanya.

Dia tersenyum dan tanpa mengatakan apapun, dia menyusupkan tangannya masuk kedalam celana piyamaku, aku kaget hendak berontak tapi ia menahanku, hingga jemarinya menyentuh bibir kemaluanku.

“Sudah basah… “Bisiknya.

Aku mendelik kesal, sambil menahan pergelangan tangannya.

“Enak gak di giniin?” Jujur rasanya enak. “Sama, Umi juga keeanakan waktu akang entotin memeknya….” Jelas Kang Ujang, jemari telunjuknya menggesek-gesek vaginaku.

Apa coba maksudnya mengatakan hal tersebut kepadaku? Dia ingin merayuku dan akan memperkosaku? Tidak akan kubiarkan dia melakukannya, aku yakin teriakanku cukup untuk membangunkan seisi rumah.

Aku memalingkan wajahku, sumpah aku malu karena kedapatan menikmati sentuhan jemarinya di vaginaku.

“Non sayang sama Umi?” Aku mengangguk jujur, karena aku sangat menyayangi Umi lebih dari siapapun. “Kalau gitu Non gak boleh marah sama Umi, apa lagi ngaduhin apa yang di lakukan Umi sama Akang.”

“Kenapa Umi ngelakuin itu sama Akang?”

“Karena Umi sayang sama Non! Tapi lebih jelasnya Akang belum bisa kasi tau, tapi nanti Akang pasti kasi tau Non.” Jelas Kang Ujang, lalu Kang Ujang mengecup keningku.

“Kapan?” Lirihku.

“Esssrt…. Non nikmatin aja dulu ya, biar adil kayak Umi tadi.” Bisiknya, dia memeluk tubuhku, dan kubenamkan wajahku di dadanya yang bidang.

Aku diam, meresapi, menikmati sentuhan jemarinya di bibir vaginaku, sementara itu tangan satunya menyelinap masuk kedalam pantatku, meremas pantatku, menelusuri belahan pantatku.

Kugigit bibirku saat merasakan getaran halus yang berasa nikmat.

Ternyata ini yang di rasakan Umi barusan, pantesan Umi bisa mengerang sekencang itu, di sentuh saja sudah begini nikmatnya apa lagi kalau sampe di masukan. Aahkk… Apa yang aku pikirkan.

Tubuhku terasa memanas, dadaku sesak, dan nafasku memburu nikmat. Beberapa detik kemudian aku merasa ingin pipis dan akhirnyaa…. Seeerr… Seerr… Oh rasanya nikmat sekali.

Kang Ujang menarik kedua tangannya, dia memperlihatkan jemarinya yang berlendir.

“Enakkan? Ini belum seberapa…” Ujarnya, sembari membelai wajahku. “Sekarang Non tidur ya, nanti besok kesiangan… Ingat pesan Akang, gak boleh benci Umi.” Aku mengangguk pelan.

Setelah nafasku kembali teratur, aku berlari meninggalkan Kang Ujang dengan berjuta pertanyaan yang memenuhi otakku.

###

Emi Sulia Salvina

Selesai menunaikan shalat subuh, aku kembali di sibukkan dengan rutinitasku sehari-hari sebagai Ibu rumah tangga pada umumnya. Setelah merapikan mukennaku, aku berjalan menuju kamar putraku.

Dengan perlahan aku membuka pintu kamar putraku, kulihat ia masih tertidur lelap.

Aku duduk di tepian tempat tidurnya, kubelai lembut keningnya. “Bangun nak, mandi dulu… nanti kamu telat kesekolah!” Panggilku lembut sambil memandangi wajah polos putraku yang sedang terlelap.

Entah kenapa aku menjadi menyesal karena kemarin sempat membentaknya. Tapi aku melakukannya bukan karena aku marah, apa lagi sampai membencinya, aku hanya sekedar ingin mendidiknya agar menjadi anak yang lebih baik, yang nantinya bisa aku banggakan.

Perlahan ia membuka matanya, terlihat sedikit kemarahan di sudut matanya saat memandangiku. Maafkan Bunda ya Nak, ini demi kebaikan kamu.

“Bangun yuk…” Ajakku.

Dia bangkit, duduk diatas tempat tidurnya sambil mengucek-ngucek matanya.

Biasanya ia akan memelukku, bermanjaan sebentar sebelum ia pergi kekamar mandinya, tapi kini tidak ada lagi pelukan dari putraku tersayang, mungkin dia marah karena kemarin aku tidak membelanya.

Aku mendesah pelan, lalu berjalan meninggalkannya.

Maafkan Bunda ya nak…
###

Sembilan

Emi Sulia Salvina

Kulambaikan tanganku melepas kepergian putraku kesekolah pagi ini, walaupun tidak ada respon darinya aku tetap menyemangatinya seperti biasanya selama ini.

Aku berjalan masuk kedalam rumahku, aku yakin Toni hanya butuh waktu untuk mengerti maksud tujuanku menghukumnya.

Tok… tok… tok…

“Masuk Bunda!”

Kubuka perlahan pintu kamar Irwan, kudapatkan anak itu sedang berbaring lemas, dengan kompresan di keningnya. Ya… Irwan mendadak demam, aku sendiri tidak mengerti apa penyebabnya ia bisa jatuh sakit seperti ini.

Aku duduk di tepian tempat tidurnya, lalu mengganti kompresan di keningnya.

“Gimana keadaan kamu Wan?” Tanyaku.

“Agak mendingan Bunda, cuman masih sedikit pusing saja.” Jawabnya, sembari memamerkan senyumannya kepadaku.

“Mendingan kita ke dokter aja Wan, untuk memastikan penyakitmu.”

Dia mendesah lirih. “Gak perlu Bun, palingan besok juga sudah sembuh kok! Toni udah berangkat kesekolah Bun?” Tanya Irwan, aku senang karena ia masih sangat perhatian terhadap putraku, setelah apa yang di lakukan Toni kepadanya.

“Iya sudah dari tadi.”

“Semoga Toni pulangnya gak kayak kemarin ya Bunda… Aku cuman merasa khawatir Bun.” Lanjutnya sembari menatapku.

“Insya Allah dia baik-baik saja.” Jawabku, membelai rambutnya. “Bunda mandi dulu ya, soalnya udah bauk asem ni.” Kataku tertawa renyah, lalu aku hendak pergi meninggalkannya tapi dengan cepat Toni menahan pergelangan tanganku.

“Bun…”

“Kenapa Wan?”

“Irwan boleh ikut mandi gak? Soalnya Irwan juga mulai merasah gerah ni Bun, kalau gak mandi.” Jelasnya, duh… aku jadi bingung.

“Tapi… Bunda….”

“Boleh ya Bun… kan Bunda sudah saya anggap seperti Ibu kandung sendiri.” Ya… tapi tetap saja beda Wan, semalam kamu hampir saja membuat Bunda lepas kontrol, untung cepat di akhiri.

“Ya sudah… kamu bisa jalan sendiri?”

“Bisa kok Bu.” Jawab Irwan.

Lalu dia turun perlahan dari tempat tidurnya, sambil berpegangan denganku, kami melangkah menuju kamar kamar mandi.
###

Elvina Yuliana

Tubuhku menggeliat diatas tempat tidurku, kulihat sinar mentari menyambut pagiku menyusup masuk di balik hordeng kamarku. Kembali aku menggeliat, merentangkan kedua tanganku. “Eehmpp… ” Aku bangkit dari tempat tidurku.

Berjalan sempoyongan menuju kamar mandiku. “Sial…!” Airnya mati.

Dengan terpaksa aku mengambil kerudungku, keluar menuju kamar mandi utama. Dengan satu tarikan aku menutup kembali pintu kamar mandinya. Dan dengan perlahan kuturunkan celana piyamaku berikut celana dalamnya, lalu duduk diatas closet.

Seperti biasanya, setiap pagi sebelum beraktivitas, aku menuntaskan hasratku terlebih dahulu. “Seeerrr…. Seeeerrr…..” Uuhkk… rasanya nikmat sekali buang air kecil pagi ini.

Treeeaak…

Deg… Ya Tuhan…. perlahan pintu kamar mandinya terbuka, tampak sosok seorang pria paruh baya masuk kedalam kamar mandi yang sedang kupakai, dia melihatku, tatapan kami berdua bertemu, ia tampak kaget tapi sedetik kemudian ia mampu mengendalikan dirinya, sementara aku hanya diam terpaku.

“Maaf Vi, Bapak tidak tau kamu lagi make kamar mandinya.” Ujar Mertuaku tidak bergeming selangkahpun, membuatku sedikit panik.

“I… iya Pak, soalnya air di kamarku gak mau hidup Pak, sepertinya harus di perbaiki.” Bodoh… bodoh… seharusnya aku mengusirnya dari dalam kamar mandi bukan malah mengajaknya ngobrol.

Dia tersenyum kearahku, dan pandangannya itu… Deg… Deg… Deg… dia menatap kearah selangkanganku yang terbuka.

Sumpah aku malu… aku gak tau gimana caranya menyembunyikan selangkanganku ini, apa lagi rambut pubikku sangat lebat, dia pasti bisa membedakan mana vagina mana paha mulusku. Aku menunduk sembari menggigit bibirku.

“Ba… bapak mau mandi?” Tanyaku lagi.

“Enggak Vi, Bapak cuman mau kencing, kamu masih lama ya? Bapak kencing di sini aja ya?” Eh… Aku mengangkat wajahku, tapi sudah terlambat, dia membuka celananya lalu mengeluarkan senjatanya yang semalam berhasil membuatku nyaris tidak bisa tidur karena memikirkannya.

Kulihat benda besar itu dengan perlahan mengeluarkan air bening yang mengucur deras seperti air pancuran.

Aku menarik nafas lega, setelah aku menyelesaikan hajatku, buru-buru aku membasuh vaginaku dan berdiri menghadapnya hendak mengenakan kembali celanaku, tapi baru sebatas lututku, tiba-tiba tanganku terhenti.

“Suami kamu kapan pulang?”

“Se… semalam… dia bilang katanya masih ada urusan di kota!” Kataku gugup, tubuhku gemetar saat melihat Mertuaku yang telah menyelesaikan hajatnya tapi tidak juga menutup penisnya.

Mertuaku mengehala nafas. “Anak itu, dari dulu kalau urusan pekerjaan selalu saja lupa waktu.” Katanya tenang, setenang air yang dalam.

“Isya allah aku bisa mengerti Pak!” Kataku gugup.

Sumpah aku sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terjadi terhadap diriku, aku tau ini salah dan dia Mertuaku hanya sekedar berbasi-basi, membangun suasana seakan tak terjadi apapun diantara kami berdua, dan bodohnya aku malah mengikuti permainan gilanya.

Ingin rasanya aku mengusir perasaan tak menentu yang kurasakan saat ini, tapi aku tidak mampu melakukannya, apa lagi setelah melihat senyumannya yang damai.

Kutarik nafas dalam, aku harus mengakhiri kegilaan ini, mengobrol sambil memamerkan kelamin masing-masing.

Aku menunduk, kuletakan jemariku di kedua sisi celana dalamku, lalu dengan perlahan aku menarik celanaku, butuh sedikit lagi maka semuanya akan tertutup rapat. Tapi entah kenapa, diakhir aku mulai merasa ragu dengan apa yang kulakukan saat ini.

Dan… “Hari ini kamu kerja nduk?” Satu pertanyaan cukup membuat kedua tanganku berhenti tepat ketika celana dalamku menututpi sedikit vaginaku.

Kuangkat kepalaku memandangnya, ah… tidak, aku memandang kaca yang ada di belakang Mertuaku, melihat pantulan diriku.

Sungguh aku terlihat sangat memalukan, celana yang tadi kutarik menggantung diantara kedua pahaku, sedikit menutupi ujung vaginaku, tapi hanya sedikit, karena sisanya terekpose sangat jelas, mempetlihatkan rambut pubikku.

Saat mata kami kembali bertemu, dia tersenyum penuh arti kepadaku. Oh Tidak… Mertuaku saat ini sedang mengurut penisnya seperti semalam sambil memandangi vaginaku.

“I… iya Pak, saya kerja jam 8!” Kutegakan kembali tubuhku seperti semula.

“Kalian berdua sama saja, gila kerja… kalau begini terus kapan kalian akan memberi saya cucu?” Tanyanya sambil menggelengkan kepala.

Ah Pak! Anda sangat cerdas sekali, raut wajah anda sangat berbeda dengan apa yang anda lakukan saat ini.

Obrolan kami mengalir begitu saja, tapi tatapan kami sama, satu arah, kearah kelamin kami masing-masing, aku menatap nanar kearah penisnya yang semakin lama semakin membesar dan terlihat sangat keras sementara dia menatap vaginaku dengan tatapan tenang seakan dia tidak terpengaruh dengan apa yang dia lihat.

Tapi sejujurnya aku tau dia pasti sangat terangsang, apa lagi semalam aku mendengar bagaimana ia memanggil-manggil namaku, seakan dia sangat menginginkanku.

“Maafkan kami Pak, tapi saya janji, kami akan segera memeberi cucu untuk Bapak!” Kataku dengan suara berdecit.

“Bapak tunggu janji kamu ya?”

Aku mengangguk, lalu kembali aku membukuk mengenakan celanaku yang sempat tertunda, tapi kali ini sepertinya beliau tidak mau menghentikanku, ada perasaan lega sekaligus kecewa saat celana itu sudah berada di tempat semestinya, menyembungikan vaginaku.

Aku berjalan melewatinya dan hendak membuka pintu kamar mandi.

Dan tiba-tiba pergelangan tanganku ia tarik, menghentikan langkahku yang hendak keluar dari dalam kamar mandi.

Apa dia hendak memperkosaku?
###

Emi Sulia Salvina

Dengan lembut aku menggosok punggungnya dengan spon yang ada di tanganku, jujur… ini kali pertama aku memandikan seorang anak remaja yang lebih tua beberapa tahun dari anakku, bahkan anakku sendiri tidak perna kumandikan.

Tapi entah kenapa, dia berhasil membujukku untuk memandikannya dengan alasan dia sedang sakit.

Apa karena dia sakit terus aku harus memandikannya? Kurasa tidak juga, ini hanya akal-akalannya saja seperti semalam. Tapi demi menebus kesalahan anakku, aku harus melakukannya agar ia tidak pulang kekampung halamannya dan menceritakan semuanya kalau anakkulah yang membuatnya meninggalkan rumah.

Bisa-bisa hubungan baik Suamiku dengan keluarga besarnya yang ada di kampung bisa renggang karena kelakuan anaknya.

“Terimakasi ya Bun, sudah mau memandikan Irwan, jadi makin betah tinggal di rumah ini.” Ujarnya, sambil memandangku dengan tatapan bahagia karena aku mau menuruti kemauannya.

Kubalas ia dengan senyuman….

Saat ini kami berada di dalam kamar mandi, dia sedang duduk kursi kecil, sementara aku berlutut di belakangnya sambil menyabuni punggungnya.(Kalau kalian biasa nonton JAV jepang kalian pasti tau posisi ini, maaf klau saya menggambrkannya krang detail)

Tanganku berpindah kedadanya, lalu turun kepahanya, dan pada saat bersamaan mataku terpaku kearah penisnya yang sudah mengancung keras di depan mataku.

Gleek… Aku menelan air liurku, menahan nafasku agar bisa tenang.

Ternyata dia terangsang, padahal hanya dia yang telanjang sementara aku masih berpakaian utuh, bahkan kerudungkupun tidak kulepas.

Saat tanganku berada di bagian paha dalamnya, aku tidak sengaja menyentuh batang kemaluannya, dan… punyanya sangat keras, bahkan lebih keras di bandingkan milik Suamiku.

Astaga… Apa yang kupikirkan, aku harus segera, secepat mungkin menyelesaikan mandinya, agar pikiranku tidak ngelantur kemana-mana, bisa gawat kalau aku sampai terbawa suasana seperti semalam, bisa-bisa aku lepas kontrol seperti semalam dengannya.

“Ayo berdiri!” Kataku.

“Tapi Bun….”

“Kenapa Wan?” Tanyaku bingung, tapi entah kenapa ada rasa takut di dalam diriku.

Dia tersenyum. “Ini kontolnya aku kok gak di sabunin juga Bun?” Ya Tuhaaan… dia memintaku membersihkan kemaluannya, jangan gila Wan, mana mungkin Bunda melakukannya.

“Kamu bisa sendirikan?”

“Tanggung Bun!” Dua menarik tanganku, lalu dia mengarahkannya kearah penisnya.

Aku menepisnya, maaf aku tidak segila itu, memandikannya saja sudah membuatku merasa seperti wanita nakal, apa lagi kalau harus membersihkan penisnya? Tidak Wan kamu salah menilai Bunda.

Kejadian semalam, karena aku mengira kamu sama lugunya seperti anakku, tapi ternyata aku salah menilaimu.

Mata kami berpandangan lalu tiba-tiba dia mencium bibirku. Mataku terbelalak dan hendak melepaskan diri darinya, tapi Irwan dengan cepat mendorong tubuhku hingga terlentang, belum sempat aku berdiri, dia sudah mendudukiku.

“Wan… Apa yang…” Suaraku terputus ketika dia melumat bibirku dengan rakus.

Tangannya menyelinap masuk kedalam gaun tidurku, lalu dengan satu sentakan dia berhasil membuka celana dalamku. Aku yang panik berusaha melawan sekuat tenagaku, tapi aku gagal karena tenaganya jauh lebih kuat dariku.

Dia menarik gaun tidurku hingga sobek, menampakkan payudaraku yang mengembung seperti balon.

“Jangan ngelawan, atau Toni yang akan menanggung akibatnya…?” Bisiknya di telingaku.

Toni… Apa maksud dari ucapannya? Dia mengancamku dan Toni? Ya Tuhan, berarti apa yang di katakan Toni kemarin benar, selama ini Irwanlah yang telah memukul dirinya hingga babak belur? Tidaaak… kamu bohongkan Wan? Ya Tuhan, aku memarahi anakku demi membela orang yang telah menyelakainya…

Maafkan Bunda nak…

“Bajingan kamu Wan!”

“Hehehe… Kalau Bunda kepingin Toni hidup, lebih baik Bunda menuruti perintah saya.” Ancamnya kembali sambil menciumi payudarahku.

Aahkk… “Jangan sakiti Toni Wan, Oohk… Apa salah kami Wan?” Isakku frustasi…

“Maaf saya hanya menuruti perintah!”

Dia membuka kedua kakiku, lalu dengan perlahan kurasakan benda tumpul milik Irwan menyeruak masuk kedalam vaginaku. “Aaaahkk…” Lidahku terjulur merasakan benda asing itu menerobos vaginaku yang sudah lama tidak tersentuh.

Tidaaak… aku sama sekali tidak menikmatinya, ini bukan film ataupun cerita dewasa, ketika seorang wanita yang di perkosa ia merasa keenakan. Aku sama sekali tidak merasakannya.

Yang kudapatkan hanyalah rasa sakit di liang peranakanku, dia kasar… sangat kasar sekali… sumpah aku mengutuk perbuatannya.

Dan semuanya mulai terasa gelap….
###

Pov 3

Seorang pemuda sedang duduk di tepian tempat tidurnya, sambil menghisap lintingan ganja yang ada di tangannya.

“Halo….”

“Gimana Wan, berhasil gak…? Mau sampai kapan saya menunggu hasil darimu, kalau kamu sampai gagal, kamu harus tau akibatnya…”

“Sabar Bos, ini juga udah berhasil kok, tapi dia belum jinak…” Ujar Irwan sambil memandang sesosok wanita yang hanya mengenakan kerudung tanpa mengenakan pakaian, sedang menangis di pojokan tempat tidurnya dalam keadaan terikat.

” Ingat ya Wan… jangan main-main sama saya.”

“Beres Bos, secepatnya saya akan serahkan dia, tapi tunggu dia jinakan dikit ya Bos…”

“Oke…”

“Oh iya Bos, barang saya mau habis ni, saya bisa ambil lagikan?” Tanya Irwan sambil menghisap dalam-dalam lintingan ganjanya.

“Kamu temuin Roni saja di tempat biasa.”

“Terimakasi Bos…” Tutt… tut… tut…

Irwan menutup telponnya dan meletakan kembali hpnya di atas meja.

Dia kembali menghampiri Ibu muda itu sembari membawa suntikan, lalu sembari tersenyum ia memperlihatkan jarum suntik tersebut di depan mata sang wanita.

Cerita Panas Bergambar | Ibu Muda itu langsung histeris, ia memohon tapi mulutnya yang tersumpal kain tak bisa bicara, dia hanya menatap takut kearah pemuda tersebut yang sedang memamerkan senyuman iblisnya. Kemudian pemuda itu menarik pergelangan tangannya yang terikat.

“Eeehmmpp…” Pekiknya saat jarum itu menusuk diatatara lipatan siku tangannya. TAMAT

About CeritaDewasas

Check Also

Di Suguhi Kenikmatan Badan Tante Lenny

Di Suguhi Kenikmatan Badan Tante Lenny –  Pagi ini aku sedang membereskan pakaianku untuk dimasukkan ke dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Poker 88 Online
PokerRolex